Poin dalam tulisan pendek ini tak ada kaitan sama sekali dengan sikap pribadi saya, soal mendukung atau tidak mendukung seseorang calon presiden. Itu tak penting, apalagi di pentas perpolitikan kita saat ini, yang nyaris tak peduli apa itu definisi dan nilai, sesuatu itu disebut penting.

Poinnya bagi saya adalah kita mudah sekali termakan setiap informasi yang beredar. Bahkan, dengan tanpa menalarnya menggunakan akal sehat, kita ikut menyebarkannya. Di beberapa WAG yang latar pendidikan anggotanya beragam, saya mengikuti komentar-komentarnya, dengan diam, bermaksud hendak membaca arah dan kualitas tanggapan mereka atas postingan ramalan cuaca tadi. Dan faktanya, banyak juga yang cenderung “termakan”. Apakah materi-materi jenis tadi memang sengaja dikondisikan dan disasar di tengah fakta komposisi penduduk yang mayoritas beragama tertentu di negara ini? Hampir pasti benar, dari fakta kecenderungan yang terjadi selama ini.

Serbuan informasi saat ini yang mencoba “menjajal” memori setiap kita, sudah sulit dibendung. Termasuk yang bernilai hoaks. Informasi yang bernilai hoaks ini tidak hanya “mengorbankan” para awam yang kurang berpengetahuan dan lemah daya kritisnya, orang-orang yang terlihat berpendidikan cukup juga ikut “terseret”. Salah satu indikasinya terbaca dari seliweran tanggapan di beberapa WAG tadi. Ini yang saya sebut rada lucu tadi.

Hoaks atau berita bohong, yang sesungguhnya adalah tidak benar tetapi dibuat seolah-olah menjadi benar. Apakah ini berbahaya? Tentu “berbahaya sangat”, meminjam istilah seorang karib untuk mendeskripsikan sesuatu kondisi yang memprihatinkan. Kita sudah hampir kehilangan akal untuk sekadar menanggapinya dengan bermodal klarifikasi saja.

Nyaris, satu-satunya “modal” yang jadi benteng terakhir melawan berita bohong ini adalah pengetahuan dan daya kritis yang cukup dari setiap kita. Modal ini, paling tidak, membuat kita untuk tidak mudah percaya dan terlebih, tak ikut untuk gagah-gagahan, menyebarkannya.

Cerita karib saya di kampung sebelah beberapa waktu lalu memberi saya sedikit perspektif untuk menemukan analog soal cara berita bohong “bekerja” dan bagaimana daya rusaknya. Dia menceritrakan pengalaman saat istirahat malam, ada tikus yang menggerogoti kulit telapak kakinya yang tebal itu. Perilaku dan “teknik” para tikus begitu tinggi yang membuat dia tak kaget, kecuali setelah paginya dan menemukan kulit di telapak kakinya yang telah terkelupas. Menurutnya, tikus menggerogoti sambil meniup.