Oleh: Anwar Husen

Kolomnis/Tinggal di Tidore

_______

KEMARIN, seiring dinamika dan euforia dukungan pada calon presiden tertentu, di beberapa WAG saya membaca postingan yang rada lucu bagi saya. Hal serupa sudah sering kita temui, apalagi di wilayah politik. Pesan agama, bahkan “dimodifikasi” sedemikian rupa agar menjadi “panganan” yang menarik dijual untuk mempengaruhi persepsi publik.

Postingan yang saya maksudkan tadi adalah makna huruf dari setiap capres yang beredar saat ini, jika disesuaikan dengan urutan huruf hijaiyah. Tak tanggung-tanggung, caption-nya bahkan tertulis siapa calon yang diridai Tuhan.

Singkatnya, ada nama calon presiden tertentu yang dikaitkan dengan menyandingkan makna nama dan arus dukungan, sejauh yang terpantau dari berbagai media.

Masih di WAG, beredar informasi, ikhtiar dari anggota salah satu partai pendukung calon presiden, yang namanya dikaitkan dengan “ramalan cuaca” menggunakan pijakan ayat-ayat dalam kitab suci itu. Dia mengutip pernyataan salah satu pimpinan lembaga survei yang cukup dikenal. Saya kutip sebagian saja, untuk menjelaskan maksud tulisan ini.

Pesan Penting Eep Saefulloh Fatah untuk Pendukung Anies Baswedan dan PKS.

Eep Saefulloh Fatah, Direktur PolMark (Political Marketing Consulting) yang sukses membantu Jokowi dalam memenangkan Pilpres 2014 serta Anies Baswedan dalam Pilkada DKI 2017, dalam pertemuannya dengan anggota DPRD PKS se-Banten, Jawa Barat & DKI Jakarta beberapa waktu lalu di Yogyakarta, mewanti-wanti PKS dan capres yang diusungnya untuk berhati-hati dengan sebuah ilusi dan gejala pemilih yang dia namakan “Amien Rais Syndrome”.

Amien Rais Syndrome adalah gejala pemilih yang banyak dan membludak dalam menghadiri kampanye massal namun tidak berbanding lurus dengan jumlah suara di TPS. Amien Rais Syndrome, menurut Eep, didasarkan pada peristiwa Pemilihan Presiden 2004 di mana Amien Rais menjadi salah satu dari 5 calon presiden. Calon presiden selainnya yaitu Wiranto, Megawati, SBY, dam Hamzah Haz. Amien Rais yang didukung oleh PAN, PKS dan 6 partai lainnya begitu gegap gempita khususnya dalam kampanye umum. Kader-kader Muhammadiyah ditambah kader militan PKS begitu bersemangat dalam menghadiri setiap kampanye akbar di jalan-jalan dan stadion besar waktu itu. Amien Rais, dengan melihat begitu tumpah ruah pendukungnya, menjadi begitu optimis bisa memenangkan Pilpres.