“Kami mengakui 14 program prioritas tersebut sudah jalan, tapi belum berhasil. Artinya, sudah jalan tapi terjadi kecelakaan di tengah perjalanan sebelum sampai kepada tujuan yang kita harapkan. Ilustrasinya begitu,” jelas Iffandi.

Buktinya, salah satu program prioritas, yaitu masalah sampah sejauh ini marak terjadi dan tidak mampu diatasi. Program prioritas penanganan sampah partisipatif, kata dia, hanya habis dan berjalan di wacana. Padahal, belakangan program tersebut benar-benar menyita perhatian publik, di mana publik menaruh harapan agar bisa terwujud, yakni memberi solusi agar bisa melakukan cara-cara menjaga, memelihara, melindungi dan bahkan meningkatkan kesehatan.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan dan harus dipromosikan secara berkesinambungan adalah program 3R sampah. Program 3R persampahan meliputi Reuses (penggunaan kembali), memanfaatkan kembali produk, terutama yang tidak dapat didaur ulang hingga tidak bisa dimanfaatkan kembali sama sekali.

Kedua adalah Reduce (mengurangi, menurunkan jumlah), upaya mengurangi timbulan sampah. Kemudian, Recycling (mendaur ulang sampah). Tiga hal tersebut harus diupayakan Pemkot Ternate.

“Paradigma lama yang konvensional, yakni sampah diolah dengan proses kumpul-angkut-buang, sudah harus diganti dengan proses pengurangan dan pemanfaatan kembali,” ujar Ketua BP Hippmamoro Maluku Utara ini.

Bagi dia, dengan proses pengurangan dan pemanfaatan kembali melalui program 3R ini, tentu diharapkan dapat terjadi pengurangan jumlah timbunan sampah di TPA sampai 70 persen. Proses pengelolaan sampah ini pun diharapkan menciptakan dampak positif, terutama dalam membudidayakan masyarakat sebagai pelaku pengelola sampah.