Graal mendobrak pola pikir “sesat” semacam ini. Ia menjelaskan tentang bagaimana idealnya relasi kandidat dan warga dalam berpolitik. Menurutnya, warga juga kandidat tidak boleh menukarkan hak politik dengan rupiah atau materi lainnya.

“Dalam demokrasi, yang seharusnya dipertukarkan adalah ide dan gagasan berupa agenda kerja dan kapasitas diri. Kita perlu cermat menyeleksi kandidat supaya kelak melahirkan pemimpin yang berkualitas. Tak hanya warga, penting juga untuk kandidat berbenah dan matangkan diri sebelum terjun ke dunia politik. Kandidat perlu bermutu dan berkualitas setidaknya dalam tiga hal, yakni intelektual, jejaring sosial, dan ekonomi. Bukan sembarang orang yang menyesaki kontestasi pemilu kita. Supaya yang terpilih adalah mereka yang bisa menjalankan pemerintahan dengan baik dan merumuskan kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat,” jelas doktor ilmu politik ini.

Warga Desa WKO semangat berdiskusi, 6 September 2023. (Istimewa)

Safari selama 11 hari ini sangat berkesan bagi Graal. Lelah karena perjalanan panjang dan berliku terbayar dengan sambutan warga. Meski banyak diskusi diadakan pada malam hari, warga tetap antusias dan bersama sampai larut, bahkan bertahan di tengah gerimis dan mati listrik (di beberapa desa).

“Respon dan antusias warga luar biasa. Mereka bersedia meluangkan waktu dan mampu berdiskusi dengan fokus,” ujar Graal.

Gayung bersambut, warga juga mengucap syukur dengan adanya kegiatan ini.

Anak-anak membaca buku di Rumah Baca Tabataku, Desa Tutumaloleo, 9 September 2023. (Istimewa)

“Kita di sini tidak pernah dapat pengetahuan seperti ini. Sangat bersyukur Pak Graal bisa membagikan ilmunya. Semoga kita bisa ikut terlibat dalam perbaikan-perbaikan politik ke depan,” kata seorang ibu di Desa Ruko Kokota Jaya.