Davyn menjelaskan, Masa.ai memiliki visi untuk membuat edukasi lebih interaktif. Karena, dia menyebutkan saat ini edukasi di Indonesia sangat rendah. Dia mencontohkan, kalau bimbingan belajar (bimbel) paling murah per season, per jam itu sekitar Rp 50 ribu per anak. Maka jika dihitung per bulan akan mencapai jutaan rupiah.

“Dengan masa kita ingin menstremline proses itu dan kita menjual hanya 38 ribuan. Dengan
menggunakan masa guru bisa mengakses ke data murid,” tutur Davyn.

Karya anak bangsa Panelis lainnya berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni Ayu Purwarianti selaku Kepala Pusat AI ITB. Dalam penjelasannya, Ayu menuturkan, saat ini ITB berhasil menciptakan AI buatan anak bangsa.

“Sebanyak 30 dosen dari berbagai fakultas di ITB, kemudian mendirikan Pusat AI ITB. Ada
beberapa NLP (Natural Language Processing) yang sudah kita bangun dan sudah kita pasang
di beberapa tempat dengan menggunakan Bahasa Indonesia,” kata Ayu.

Ayu menegaskan, penggunaan AI di masa mendatang diprediksi akan lebih intensif di tengah masyarakat. Misalnya untuk pelayanan publik. Pasalnya, kata Ayu, melalui AI ini mampu mempercepat proses input data dan mempermudah digitalisasi.

Ayu menjelaskan, beberapa produk yang berhasil dibuat di Lab AI ITB salah satunya Indonesia Social and News Media Analytics dan Indonesia Social Technology.