“Tujuan somasi untuk apa? Lantaran melantik adat? Adat kok disomasi. Ini kan hukum adat, mau somasi pakai hukum apa? Hukum negara apa adat? Kalau hukum adat nggak mengenal somasi,” kata Nita usai melantik Baru Baru (Prajurit) Kesultanan Ternate versi Jaib Kolano di Kelurahan Kalumata, Selasa (25/7).

Wanita 55 tahun itu mencontohkan gelar Boki yang digunakan Boki Nukila.

“Boki Nukila itu sudah menikah dua kali. Itu pun sampai meninggal, masih dipanggil Boki Nukila dan tetap dianggap sebagai pahlawan,” jelas Nita.

“Kalau masyarakat memanggil nama Boki gimana? Biarin aja, karena kalau orang sudah penuh rasa benci, iri, rasa ketakutan dan rasa terancam posisinya maka mereka akan berbuat macam-macam. Yang merusak tatanan adat ini siapa? Kalau mereka mengatakan dia (Hidayatullah) yang sah, lantas itu menurut siapa? Kan itu menurut dia (Hidayatullah) sendiri itu sudah sah, masak sultan lantik sendiri,” sambungnya.

Ia menegaskan kepada rivalnya untuk tidak usah mempermasalahkan kedatangannya, bersama dua putera kembar. Sebab, Nita mengaku mengantongi bukti wasiat yang diberikan oleh almarhum Mudaffar Sjah, soal Kolano Madoro.

“Kan dia (Hidayatullah) sudah di kedaton, terus mau somasi apa juga? Lagian perpecahan di intenal kerajaan itu hal yang biasa. Yang bikin gaduh siapa? Kan kita di sini (Ternate) santai-santai aja kok. Pegangan saya adalah amanah dan wasiat almarhum Sultan Ternate,” tegasnya.