Kedua, nama Rum diambil dari nama salah satu benteng Portugis, yaitu Benteng Rum (Roem) yang dibangun pada tahun 1605.
“Benteng ini berada di sebuah bukit curam di pantai barat laut Pulau Tidore mengutip Djafar, I. A, 2007. Nama Rum diduga kuat mengambil dari Roem. Dugaan ini, karena kebiasaan masyarakat Maluku memberi nama tempat sesuai dengan apa yang terdapat di sekeliling mereka seperti nama jenis pohon, jere, benteng, dan peristiwa yang terjadi di tempat tersebut,” urainya.
Ia menerangkan, para tetua meyakini bahwa pemukiman tua (kampung awal) Rum berada di sebuah telaga (saat ini disebut Talaga Rum).
“Kampung ini pertama kali didirikan salah satu soa (marga), yang berasal dari Seli. Menurut Salim Tuguira (63 tahun), dari kesembilan marga yang ada di Seli, ada satu marga yang hilang yang disebut Lum Sira. Kata “hilang” yang dimaksud adalah pergi meninggalkan kedelapan marga yang ada di Seli dan membuat pemukiman baru dengan keluarganya,” katanya.
“Keterangan di atas juga disampaikan oleh Abubakar Senen (70 tahun) bahwa marga yang hilang tersebut adalah leluhur dari Fola Simo yang berasal dari Seli, yaitu Momole Suara. Momole Suara—inilah yang bermukim awal di Talaga dan mengaktifkan Fola Simo di Talaga yang awalnya berada di Seli. Tidak diketahui berapa lama Momole Suara mendiami Talaga tersebut, akan tetapi jejak atau bekas pemukiman, makam (tua), dan jere Momole Suara masih terlihat sampai saat ini,” bebernya.
Pemukiman di Talaga kemudian ditinggalkan setelah salah satu anak dari Momole Suara menjadi Kolano Tidore ke—4, yaitu Kolano Balibunga. Pemukiman di Talaga dipindahkan ke Gale Mauli, turun dari arah Talaga kurang lebih 7 km.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.