ChatGPT merupakan salah satu aplikasi Artificial Intelligence, lebih tepatnya di bidang natural language processing yang di dalamnya memanfaatkan Pre-trained Generative Large Language Model. Ini merupakan suatu model Artificial Intelligence yang awalnya dibangun dari data unsupervised”. Penggunaan artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT dalam dunia pendidikan menjadi polemik seperti pisau bermata dua terkait dengan etika dan moral akademik. Hampir semua masalah dapat diselesaikan oleh ChatGPT, sehingga siswa/mahasiswa tidak kesulitan dalam menyelesaikan tugas. Siswa/mahasiswa lebih suka berdiskusi dengan ChatGPT diandingkan berdiskusi dengan guru/dosen karena semua masalah pembelajaran (tugas) dapat diselesaikan oleh ChatGPT, dibandingkan berdiskusi dengan guru/dosen yang mungkin tidak semua masalah dapat diselesaikan oleh guru/dosen.
Untuk itu, dengan adanya ChatGPT guru/dosen sebaiknya selalu mengupgrade pengetahuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi AI sehingga siswa/mahasiswa menyelesaikan tugas menggunakan ChatGPT (copy paste) dari ChatGPT dapat di deteksi oleh guru/dosen dengan cara manual ataupun menggunakan tools tertentu. Selain itu ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru/dosen untuk menghindari untuk menyontek menggunakan AI (chatGPT), seperti: Mengubah penilaian dari yang standar ke otentik, bergeser dari generalisasi ke personalisasi, mengajak siswa/mahasiswa berpikir kritis dan rasional karena chatGPT dapat menghasilkan output yang kompleks bahkan mendekati kreatifitas manusia, dan diberikan tugas yang berkaitan dengan sosial-emosional.
Namun tenang, ada hal-hal peran manusia yang tak bisa tergantikan AI. “Di dalam kalimat artificial ada kata ‘art’ Artinya manusianya itu ‘art’. Tanpa ada ‘art’ tidak ada artificial intelligence. Nah jadi harus ada manusianya sekarang. Kalau kita pertanyaannya bodoh ibaratnya, jawabannya bodoh juga. Kalau pertanyaan kita bagus, dia akan bagus juga, di situ peran manusianya.” (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.