“Ada teman-teman bilang selesai kuliah dulu baru berjualan dan cari kerja yang mapan. Ada juga teman-teman singgung soal pekerjaan. Bahkan saya punya teman kampung sempat menertawakan saat saya berjualan,” kenangnya.
Ketika Ismail mendirikan warkop di kampus, teman-teman seangkatannya mengatakan ia melakukan hal yang tak berfaedah.
“Karena mereka menganggap ini lelucon. Tetapi, bagi saya berjualan sebagai salah satu kreativitas untuk mengurangi pengangguran,” ucapnya.
Modal utama jualan Ismail sebesar Rp 100 ribu. Kadang ia memanfaatkan beasiswanya.
“Untuk penghasilan tergantung kondisi cuaca. Kalau biasanya cuaca bagus paling tinggi Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu dalam sehari. Kadang dapat di bawah Rp 100-150 ribu,” terangnya.
Dari jualan kopi, Ismail tak lagi bergantung pada orang tuanya. Ia bisa membayar biaya kuliah, uang kosan, hingga uang makan sehari-hari.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.