Lalu soal ketidakaktifannya dalam DPC, Tamin memaparkan Hanura dalam Pilkada Halbar 2019 terpecah belah. Sebab Ketua DPC Denny Palar juga ikut dalam Pemilihan Bupati Halbar sementara SK DPP Hanura bernomor 006 tertanggal 18 Februari 2019, rekomendasi Hanura diberikan ke Danny Missy dan Imran Lolori.
“Dengan kejadian ini, saya memilih mengikuti arahan dan mengamankan kebijakan partai dengan ikut mengkampanyekan Danny-Imran. Teman-teman saya semuanya, termasuk yang di DPRD lebih memilih ke Denny Palar. Konflik ini pun berlanjut hingga ke meja DPP. Jadi konflik Hanura Halbar itu dalam waktu yang lama dan sampai hari ini belum ada keputusan dari DPP,” ujarnya.
Sebagai kader partai yang loyal, Tamin menunggu keputusan dari DPP terkait penetapan Ketua DPC Hanura yang baru. Karena masalah ini sudah disidangkan dan tinggal menunggu waktu.
“Kalau yang ditetapkan itu Ricardo Salaka ataupun dikembalikan kepada Denny Palar, maka sebagai kader partai yang loyal saya akan tunduk dan rapatkan barisan dengan ketua baru yang ditetapkan oleh DPP,” tukasnya.
“Jadi kalau saya dibilang tidak aktif, saya rasa tidak tepat. Oleh karena itu saya akan berkonsultasi dengan DPP terkait masalah ini. Pergantian pimpinan dalam sebuah organisasi itu hal biasa tapi dasar atau alasannya harus jelas. Saya ini, ketika semua kader partai meninggalkan Hanura untuk mengikuti Denny Palar ke Partai Gerindra, saya sendiri yang membela mati-matian arahan DPP dengan mengkampanyekan Danny-Imran,” beber Tamin.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.