Sebuah buku adalah sejarah, demikian ungkapan sang bijak. Setiap torehan aksara pada lembaran buku manapun adalah sesuatu yang tersembunyi untuk diselami ketubiran maknanya. Buku adalah “penyambung sejarah paling brilian yang pernah ada,” demikian kata Sven Birkets, sang penulis buku The Gutenberg Elegies (1987/1994).
Buku adalah pengerek waktu dan penggerak lompatan kuantum dalam kecepatan meditatif, saat orang tak hanya membaca kalimat-kalimat, melainkan turut “bermimpi” di dalamnya. Dengan buku, kita dibawa menjelajahi dimensi lain. Membawa kita menuju menara waktu permenungan dan pengayaan eksistensial diri. Tak berlebihan bila ada ungkapan filosofi : temukanlah butir-butir kearifan dan tetesan peradaban dari buku.
Buku adalah “kaki” peradaban untuk melangkah memasuki ruang waktu dan sejarah. Di sana dapat ditemukan butir-butir untaian kearifan, makna kesejatian, setetes pengetahuan, dan nilai pembebasan. Sebuah buku, juga dapat menggiring naluri emosional kita memasuki kawah yang menghentakkan dan menegangkan.
Pada buku, di sanalah tradisi baca tulis hidup yang menjadi bukti adanya peradaban, menyisakan jejak bagi generasi penerusnya. Buku, mestinya terus dilahirkan dalam ruang dan waktu kapan pun. Budaya melalui tradisi baca tulis semestinya disemai dan ditumbuh-suburkan, karena dari sanalah hadir watak manusia arif-bijaksana, santun, objektif-rasional, dan merdeka. Omong kosong menghadirkan watak manusia bebas (liberasi), merdeka, santun, dan arif-bijaksana, sementara tradisi baca tulis ini tidak didorong. Bahkan dalam kenyataannya, tradisi ini kita belenggu dan menjajahnya. Dari buku-lah aura kearifan terpancar. Ketiga anak muda dan anak muda lain di Maluku Utara yang telah menerbitkan buku secara swadaya, mereka sadar, sebagaimana ungkapan Al-Ghazali (1058-1111) yang terkenal, mereka bukanlah anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka mereka menulis.
Di tengah menguatnya tradisi menunduk karena gadget dan mekarnya pengetahuan pragmatis, buku merupakan oase untuk membangun kesadaran pengetahuan yang paling vital. Mereka memahami ungkapan : _Debita ab erudito quoque libris reverentia_ (Kehormatan orang terpelajar berasal dari buku). (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.