Oleh : Herman Oesman
Pengajar Sosiologi, Pencinta Buku
______
_Debita ab erudito quoque libris reverentia_
(Kehormatan orang terpelajar berasal dari buku)
Dua kekuatan yang berhasil memengaruhi pendidikan manusia: Seni dan Sains
Keduanya bertemu dalam buku
(Maxim Gorky, Pengarang Rusia/Sovyet, 1868-1936).
PERTENGAHAN tahun 2021, dalam rentang waktu tidak panjang, lahir tiga buku yang dihasilkan tiga anak muda potensial Maluku Utara. Adalah Rusly Saraha, Komisioner Bawaslu Kota Ternate, dalam kesibukannya, berhasil meluncurkan buku dari catatan pengawasan selama proses Pemilihan Walikota/Wakil Walikota Ternate 2020 berjudul : “Notes From Ternate” (Bawaslu Kota Ternate, 2021), Faris Bobero, jurnalis, CEO Cermat Partner Resmi Kumparan, melahirkan buku dari catatan perjalanannya menjelajah punggung bumi Halmahera, diberi judul : “Orang Halmahera, Sebuah Catatan dari Lapangan” (Cendekia, 2021), dan Risman A.M. Djen, Sekretaris Jenderal LSM Jong Halmahera 1412, alumni HMI Cabang Ternate dengan karyanya : “Jalan Kebebasan, Esai-Esai Pilihan” (Subaltern, 2021).
Sengaja tiga sosok anak muda ini ditampilkan, karena di tengah melemahnya “narrative knowledge” dan suburnya “pragmatic knowledge” akibat menguatnya penggunaan media sosial, ketiga anak muda ini, justru dengan semangat _zeitgeist_, membangun kredensial tentang menulis secara serius. Sesuatu yang amat membahagiakan di tengah mulai meredupnya kemampuan literasi di kalangan sebagian besar anak muda, akibat penggunaan media digital yang masif.
Ketiga anak muda ini : Rusly (Uchy), Faris (Aysh), Risman (Iman), justru menabalkan kemampuan yang mereka miliki. Dalam sunyi, mereka menenun kata, menyulam kalimat, membangun imajinasi penuh kesabaran dengan hasrat kuat melahirkan karya. Sebelumnya, memang telah ada beberapa anak muda cemerlang Maluku Utara yang telah menerbitkan buku secara swadaya, baik dalam bentuk novel maupun kumpulan tulisan. Sebut di antaranya : Rajif Duchlun, Sri Wahyuni Tamrin, Abdullah Totona, Muhammad Guntur, Sofyan Warad Umar, Pegiat Pilas Institute, Pegiat Independensia, dan masih banyak lagi yang tidak terdeteksi. Mereka tanpa promosi, bekerja dalam sepi menerbitkan karyanya. Tidak untuk kepentingan naik pangkat dan jabatan, tetapi untuk mengisi memperkaya relung nurani dan akal budi mereka. Menulis menjadi bagian dari eksistensi mereka, dan dengan itu hendak menahbiskan : “aku menulis, maka aku ada.”
Ketiga anak muda ini (Uchy, Aysh, Iman) bukanlah akademisi. Tetapi mereka telah mengerjakan separuh “pekerjaan” para akademisi, menulis dan menerbitkan karya. Mereka membangun realitas semesta melalui tulisan, menguatkan jangkar komitmen dan pemikiran. Mereka tidak mengawetkan budaya lisan _(speech act)_, tetapi justru menyemai budaya tulisan _(inscription)_. Menurut Paul Ricoeur (1976), pada bahasa lisan pembicara menjadi unsur terpenting yang menentukan makna pembicaraannya, karena itu, pikiran bersifat intensional. Sementara pada bahasa tulisan, peranan utama tidak lagi pada aktor (pengarang) melainkan pada teks tertulis, pikiran berubah menjadi proposisional.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.