Kosakata yang digunakan para subjek, menurut Yerbury, merefleksikan ekspresi mereka yang dibatasi oleh pengalaman (experience), karakteristik (tingkat pendidikan dan keaktifan dalam civil society), dan persepsi-persepsi  mereka (2012:p.187). Hasil penelitiannya menunjukkan dimana tema komunitas mencakup kata komunitas itu sendiri, rasa memiliki/keterikatan (belonging), dialog dan percakapan yang berkelanjutan (sustaining conversation), berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta orang-orang nyata (embodied people). Sebuah pengertian atau perasaan kebersamaan terbangun sebagai sebuah komunitas ketika orang-orang tetap berhubungan (keep in touch); mereka berinteraksi melalui tatap muka dan atau dimediasi beberapa jenis teknologi; rasa terhubung (a sense of connection) dengan orang lain merupakan bagian utama dari komunitas; diskusi dan dialog menjadi penting dalam menciptakan pengakuan (sense of recognition). Seperti dinukil Yerbury dari informannya, hal itu dipandang sebagai “merasa adanya keterikatan” (sense of belonging), kebersamaan dengan orang-orang yang membuat seseorang merasa familiar, adanya pengakuan (a sense of recognition).

Umumnya, para subjek penelitian Yerbury memandang berbagi pengetahuan (knowledge) dan pengalaman (experience) merupakan satu bagian esensil dari penciptaan komunitas. Sementara dua subyek lainnya merasa bahwa, orang-orang nyata (embodied people) merupakan hal penting bagi sebuah komunikatas. Bahkan di antaranya memandang aspek berbagi informasi dalam dirinya sendiri tidak cukup untuk membentuk komunitas, di mana subyek ingin mengetahui dengan siapa ia berkomunikasi; “bagi saya, demikian subyek penelitian yang dinukil Yerbury, masih ada lebih banyak kehangatan dan lebih banyak kemanusiaan, dan benar-benar sesuatu yang jauh lebih berharga di sekitar keterlibatan dalam komunitas offline daripada komunitas online” (p.189).

Apakah anak-anak muda di kafe Jarod, orang per orang, sebagai subyek yang “berbicara” dan membuat keputusan sendiri, membayangkan—secara sadar atau di bawah sadarnya—bahwa mereka adalah sebuah ‘komunitas’ dengan elemen-elemen penyusunnya seperti diungkap penelitian Yerbury di atas? Hanya mereka yang tahu. Tetapi mengamati siklus ritual sosial pertemuan dan perjumpaan, obrolan-obrolan, dikusi-diskusi, kelakar dan keseriusan mereka seperti saat berdiskusi, barangkali tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa, elemen-elemen komunitas yang diungkap Yerbury dari anak-anak muda di kota Sydney, Australia, sangat mungkin juga dibayangkan, atau saya duga dibayangkan, oleh anak-anak muda Komunitas Jarod. Jika tidak demikian, lantas apa yang mereka pikirkan atau bayangkan?

Dengan demikian, mari ngopi, sebab dari  cangkir-cangkir kopi yang dengan rajin diseruput lahirlah “komunitas” dengan nama keluarganya “Jarod”; ”Komunitas Jarod”. Kini berusia 10 tahun, semoga aromanya menggairahkan kota Ternate, sebagaimana aroma dan kafein kopi menstimulasi gairah obrolan-obrolan, diskusi-diskusi,dan cangkir-cangkir pun gemeretak beradu karena disenggol, kursi dan meja berderit mengiringi canda dan tawa menyongsong malam yang mulai larut.(*)

 

Kafe BasaBasi, Nologaten, Yogya, 12 September 2020

 

 

Bacaan

Fernando, M.R (2003) “Coffee Cultivation in Java, 1830-1917”. Dalam The Global Coffee Economy in Africa, Asia, and Latin America, 1500-1989, pp. 157-172.

Geertz, Clifford (1983) Involusi Pertanian. Proses perubahan ekologi di Indonesia, Jakarta, Lembaga Pendidikan Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor dan Yayasan Obor 1983;53

Onaka, Fumyia (2017) Community Transformation in Asian Societies. An Introduction. Source: Historical Social Research/Historische Sozialforschung , 2017, Vol. 42, No. 3 (161), Special Issue: Critique and Social Change: Historical, Cultural, and Institutional Perspectives, pp. 277-288

Yerbury, Hilary (2012) Vocabularies of community. Source: Community Development Journal , Vol. 47, No. 2 (April), pp. 184-198