Anie menambahkan, Desa Soligi seperti desa-desa pesisir umumnya memiliki sumber daya bahan dasar makanan yang bisa dioptimalkan. Bahan dasar makanan tersebut seperti ikan, kelapa, sayuran, pala, dan sebagainya yang biasanya dijual dalam bentuk utuh atau olahan sederhana. Agar dapat memiliki nilai tambah, melalui program PPM perusahaan diberikan pelatihan pembuatan makanan ringan yang diharapkan bisa diterima oleh pasar di luar Soligi, termasuk ke Bacan.

“Kami juga mendampingi dalam hal kemasan. Jangan sampai rasa dan kualitas produk menjadi kurang menarik dengan kemasan yang kurang baik. Kemasan dapat meningkatkan nilai jual produk tersebut,” ungkapnya.

Peluncuran produk UMKM Desa Soligi. (Istimewa)

Sejauh ini, antusiasme kelompok binaan UMKM Desa Soligi yang mayoritas adalah kaum perempuan terlihat sangat baik. Pihak Pemerintah Desa juga ikut serta memberikan dukungannya. Ke depan, diharapkan produk UMKM ini dapat menjadi ciri khas Obi dan juga menjadi oleh-oleh Pulau Obi.

Sebelumnya, hal senada juga telah dilakukan di Desa Kawasi. Pembinaan kelompok UMKM kuliner juga telah berlangsung sejak akhir 2019 lalu. Tim CSR HARITA Nickel senantiasa mendampingi kelompok binaan dalam hal penyediaan sarana produksi, desain kemasan, hingga yang terpenting adalah pembukaan akses kepada konsumen. Beberapa produk yang berhasil dihasilkan dari Desa Kawasi antara lain roti “Elsa Bakery”, pia kacang hijau “Elsiyanti”, keripik pisang gurih “Horiwo”, serta olahan abon ikan “Hininga”.

Seluruh produk kuliner yang dihasilkan oleh kelompok binaan HARITA Nickel, baik di Soligi maupun Kawasi, kini menjadi favorit banyak orang terutama kalangan karyawan di dalam site. Produk itu semakin mudah ditemukan di kantin, mes, hingga ruang rapat sebagai menu camilan.