Semenjak tekanan-tekanan yang menimpa hubungan kami, aku jarang bahkan tidak pernah lagi bepergian seperti itu. Aku butuh liburan.
Saat masih menjadi mahasiswa dulu, aku suka melakukan pendakian. Biasanya, dalam sebulan selalu ada waktu kusisipkan untuk mendaki bareng beberapa kawan dari Mapala 45 Makassar, tempat kuliah dulu. Ketagihan setelah diajak kawan-kawan ini. Kegiatan ini kutinggalkan setelah pulang kampung dan terdiagnosa asma. Takut, ketika melakukan perjalanan asma kambuh dan hal-hal yang tidak kuinginkan terjadi. Walaupun belum aku konsultasikan ke dokter. Sebagai jaga-jaga saja. Aku tidak seberani Soe Hok Gie yang siap dalam perjalanan kematiannya.
Orang-orang menghindari mati. Gie sebaliknya, menari bersama kematian. Berdamai dengannya, lalu wafat di pangkuan sahabatnya, Mas Herman. Dalam satu pendakian beberapa tahun lalu di Semeru, aku mendoakan Gie dan teman-teman pendaki lainnya di prasasti yang penuh kenangan itu.
“Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau. Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra. Tapi aku ingin mati di sisi mu… Manis ku...” Kututup doa dengan 2 bait puisi Gie: Mati Muda.
Halmahera memiliki gunung yang cukup eksotis untuk dikunjungi, deretan gunung dengan ketinggian rata-rata 1000-an lebih mdpl. Aku pikir ini mungkin perjalanan terakhir bersama Tiwi sebagai lajang. Mungkin saja aku harus melamarnya di salah satu puncak, biar seru kali ya. Sesekali bisa romantis bersama kekasih.
Seperti biasa, setelah ngambekan bisa semingguan tidak saling berkabar. Ini waktu yang tepat untuk mengajaknya jalan-jalan. Sore tiba, dan aku sedang menikmati kopi rumahan ibu, calon mertuaku. Hehe. Menunggu pulangnya Tiwi dari kantor tempat kerjanya. Tiba-tiba:
“Kak, aku ingin kita putus…”
Klise, selalu saja begini. Tidak adakah model penyelesaian masalah yang lebih baik dari ini? Dasar cewek…
“Ya udah, putus. Aku pulang.”
Bayangkan, niat baik yang belum sempat diutarakan langsung disetop begitu saja. Dasar cewek…
Paling beberapa hari lagi sudah baikan.
…. Sebulan benar-benar berlalu, Tiwi tidak pernah lagi menyebut panggilan kesukaanku, di setiap pembuka pesan whatsappnya; “Kak….”
Kabar tentang akan menikahnya Tiwi tersebar. Perasaan aneh menyelimuti tubuh, pun jiwaku tak ketinggalan muram. Rumah dan seisinya berubah sepia.
Gadget yang biasanya tenang berdering banyak sekali pemberitahuan. Niat membuat kopi pagi hilang. Aku kembali ke atas ranjang tempat tidur andalanku. Menutup mata beberapa saat, lalu membukanya lagi.
Tubuhku menggigil ngilu, nafasku terasa sesak, air mataku mengalir tanpa suara. Suara keras menghantam pintu kamar, tangan lembut Ibu memegang kepalaku, tangannya yang satu memaksa memasukkan inhaler ke mulut dan menekannya beberapa kali.
“Sahabat-sahabat yang baik tidak bertanya, ia datang memberi punggung kuat untukku peluk…”
Orang-orang yang selalu baik padaku semua berada dalam kamar. Tidak ada kata nasehat. Hening.
“Aku ingin melakukan perjalanan…”
Suara datarku memecah konsentrasi hening yang mengganggu.
“Aku ikut, Bro.”
Suara Wawan menimpali. Sahabat yang lain turut bersuara, mereka juga akan ikut.
“Tidak, kali ini aku ingin sendiri. Benar-benar sendiri…”


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.