Ngototnya Tiwi cukup beralasan. Dua tahun belakangan, hampir semua karibnya telah menikah. Terakhir, salah satunya baru saja dilamar. Tiwi mengirim sebuah chat WhatsApp singkat saat temannya itu dilamar, “Zara semalam dilamar, kamu kapan?”. Aku hanya membacanya. Ya Tuhan, sudahi teror ini.

“Wi, kalau kopinya hanya diaduk, sini aku yang minum.”

Mendengar kata-kataku, Tiwi berdiri dengan wajah cemberut berjalan menuju scooter miliknya. Aku mengekor di belakang.

“Wi, malah pergi. Gitu aja ngambek.. Siapa yang bayarin coba? Aku gak bawa uang, Wi.”

Tanpa bicara Tiwi membuka dompet dan mengambil 1 lembar uang dengan wajah yang semakin menjadi-jadi, “Nih.”

Tiwi kalau sedang marah seperti itu, sedap dipandang. Cantik… Kadang aku lebih suka membuatnya marah, wajah favoritku itu. Paling besok udah baikan lagi.

Malam ini, Kedai Teman Seduh walaupun di malam Jumat cukup ramai pengunjung. Musim penghujan di akhir tahun barangkali menjadi sebabnya, mungkin. Beberapa muda-mudi Buli asyik ngobrol perihal Natal dan liburan akhir tahun, karyawan perusahaan tambang terlihat serius berdiskusi, yang lainnya sedang bermain kartu remi dan masih banyak lagi pengunjung yang asyik dengan apa yang tengah dilakukannya. Coffee shop yang pemiliknya adalah anak-anak muda Buli ini menawarkan tempat ngopi yang tidak membosankan untuk setiap yang berkunjung ke sana. Bukan hanya tempatnya yang nyaman, kopi dengan kualitas terbaik dalam negeri menjadi menu andalan kedai yang satu ini. Di luar parkiran bunyi Vespa kawanku baru saja tiba.

“Tadi di jalan ketemu Tiwi. Kenapa balik duluan dia?”

Kutarik napas yang cukup panjang untuk menjawab Wawan.

“Berantem lagi?” sambung Opan.

Kujawab dengan hanya mengangkat bahu. Tak jadi menjelaskan.

Kedua kawan yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri ini sangat paham persoalan-persoalan yang tengah kuhadapi, termasuk soal aku dan Tiwi yang juga membuat keduanya sering ikut andil menjadi penengah bahkan penasehat bak PBB yang bertugas memediasi hubungan dua negara yang bertikai ataupun memanas.

“Sebenarnya apa yang masih kurang, Bro? Kaliankan sudah saling tahu, Tiwi juga orangnya gak muluk-muluk. Tidak penting soal mewah atau sederhananya. Asal kalian menikah, itu yang dibilang Tiwi.”

Wawan menjelaskan apa yang dipikirkannya, kulihat Opan juga sepertinya akan menambah beberapa kalimat petuahnya. Opan walaupun teman bermain dari kecil, dia lebih tua banyak dari kami semua. Paling cepat menikah dengan hidup yang lumayan mapanlah.

“Betul kata Wawan. Menikah, maka banyak permasalahan akan terurai. Jangan takut dengan rejeki, akan ada saja datangnya dari pintu yang tidak pernah kita pikirkan. Allah akan memberikan sebaik-baiknya kehidupan.”

Apa aku bilang, yang tua dengan ceramahnya. Tarikan nafas rokok Opan membuatnya berhenti, setelah ia batuk.

“Itu tandanya segera berhenti merokok Gus, tidak sayang anak dan bininya? Sana pesan dulu kopi baru kita bicara berapa janda dan yatim yang ditinggalkan suami karena rokok, hehehe.”

Wawan memesan Kopi Halmahera dengan metode vietnam drip. Kopi yang didapat dari olahan petani kopi beberapa desa di Buli. Sedang Opan memilih Gayo Aceh V60.

“Kapan terakhir kalian berdua jalan, In?”

“Barusan, tadi ngobrol juga…”

“Maksudnya pergi berdua. Seingat saya, dulu kalian sering sekali mendaki bareng, camping di pulau. Ini saranku ya, Bro, kalian perlu bicara. Kamu tahulah maksudku…”

Wawan seperti biasa, memberi salah satu cara terbaik menyelesaikan masalahku.

“Betul juga ya. Bang Wawan memang penyelamatku dari dulu. Kopinya aku yang traktir deh. Minum-minum…” Sebenarnya Tiwi yang traktir sih. Hehehe.