75 Tahun (Catatan Kemerdekaan)
Suatu catatan penting selama 75 tahun untuk Indonesia terhadap Maluku dan ekspansinya. Merdeka bukan menunjukkan eksistensinya secara politik, merdeka bagi Tan Malaka adalah baik secara ekonomi, sosial dan pemerintahan dan yang terpenting adalah tanpa kompromi (merdeka 100%).
Indonesia diprediksi oleh Susilo Bambang Yudhoyono cenderung menuju empat skenario yang diperkirakan bakal menentukan masa depan Indonesia pasca-Reformasi: (i) Indonesia akan tumbuh menjadi negara demokratis; (ii) Indonesia menjadi negara semi otoritarian; (iii) Indonesia menjadi negara Islam; (iv) Indonesia mengalami disintegrasi, terpecah–pecah menjadi beberapa negara kecil (Irham Rosydi, Sejarah Hukum: 2009).
Perjuangan Bangsa Indonesia tidaklah mudah untuk Bung Karno dan Bung Hatta dalam menuju kemerdekaan Republik Indonesia. Tetapi dilihat dalam catatan sejarah sangat mengerikan ketika Sultan Saifuddin, Sultan Nuku sampai Sultan Zainal Abidin Syah dan Iskandar Djabir Syah (Ternate) memperjuangkan kemerdekaan Negara Maluku sampai diintegrasikan ke dalam NKRI. Berangkat dari pusat dunia ke kemerdekaan Maluku sampai mengubah jadi Negara Indonesia Timur (NIT) kemudian menjadi Negara Kesatuan RI.
Bercermin dari Sultan Saifuddin (Jou Kota) dalam mempertahankan empat kerajaan di Maluku sebagai falsafah kesatuan Maluku, serta pengelolaan kenegaraan, Saifuddin menjadi dasar falsafah yang bijak dan damai. Kemudian praktisnya adalah Sultan Nuku (Jou Barakati) dikenal dengan militansi dan semangatnya tidak pernah redup, kurang lebih 25 tahun selalu diselimuti pertempuran dalam perjuangan pembebasan, tidak pernah kompromi dengan penindas dan penjajahan sampai kemenangan jatuh di tangannya.
Dengan situasi dan kondisi 75 tahun Indonesia, spirit ini menjadi dasar pijakan bagi kita semua untuk bergerak dalam menggapai kemerdekaan yang sejatinya. Tuntaskan kemerdekaan!(*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.