Nuku (1797-1805): Penakluk Maluku dan pahlawan Indonesia yang tidak terkalahkan. Pascawafatnya Sultan Saifuddin Maluku (Tidore) mengalami masa–masa kegelapan hingga muncul sang pangeran pejuang yang eksis dalam nilai–nilai leluhur ketauhidan dan semangat kemanusiaan. Selama kurang lebih 25 tahun Pangeran Jou Barakati spiritnya tidak pernah pudar untuk melawan penindasan dan penjajahan, hanya utuk mengembalikan kemerdekaan Negara Maluku, dan mengembalikan fitrah Tidore (Maluku) sebagai bangsa yang berdaulat seperti sultan sebelumnya (baca: Saifuddin ).
Awal pergolakan ketika dimulainya perselisihan Pulau Seram ketika traktat yang dibuat Sultan Tidore (Jamaludin) dan Pemerintah V.O.C di Ternate, dalam catatan Muridan. Akibatnya terjadi penangkapan dan pengasingan Sultan Jamaludin, Pangeran Garamahongi, Pangeran Zainal Abidin dan Sultan Bacan. Dan setelah itu diangkatlah Pangeran Gaijira kemudian Patra Alam, sebab intervensi V.O.C terhadap Kesultanan sangat kuat. Akhirnya terjadi pemberontakan Di Tidore.
Diketahui oleh Gubernur belanda, akhirnya penyerangan pun dilakukan ketika Nuku melakukan pertemuan di Negeri Toloa. Berangkat dari sini lah Nuku mulai melakukan pelayaran. Tahun 1780 menjadi kisah dalam catatan sejarah traktat hilangnya kemerdekaan yang dilakukan oleh Patra Alam. Traktat itu dapat dilihat sebagai akhir dari Tidore dan Maluku sebagai negara berdaulat dan merdeka.
Nuku mulai membangun kembali tradisi Persatuan “Marimoi Ngone Futuru”. Tidak memerlukan waktu yang cukup lama, ia berhasil mengumpulkan pasukan di wilayah–wilayah pinggiran Tidore. Orang Papua, Raja Ampat, orang Gamrange, Gebe dan Seram. Bahkan Nuku dan pasukannya berhasil menyerang Nusatelu (Drie Gebroeders) dan menangkap orang Eropa. Nuku kemudian diangkat menjadi Sultan di Seram.
Pasukan Nuku terus bertambah pesat dan semakin kuat sehingga menjadi ketakutan bagi Patra Alam dan Gubernur V.O.C dan Gubernur Ambon. Mereka mencoba menundukkan orang Papua agar patuh terhadap Sultan Tidore (baca: Patra Alam). Hanya satu kepala sangaji yang tunduk yaitu Sangaji Muka pada tahun 1783. Dalam situasi yang semakin tidak menentu itu, V.O.C menurunkan Patra Alam dan menggantikannya dengan Pangeran Kamaludin.
Dalam catatan Muridan -Dari Pemberontak Menjadi Sultan- adalah perjalanan panjang dalam mengembalikan esensi Maluku. Di Tahun Kemunduran Sementara dan Epidemi (1785–1790), Nuku dan pasukannya hampir mengalami kekalahan dari Belanda. Namun atas komitmen serta ketegasan tanpa kompromi itulah Nuku dan pasukannya kembali bangkit dan mengumpulkan basis kekuatan (1791–1796). Nuku mulai berafiliasi dengan Inggris untuk menjadi sekutunya hingga pasukannya sudah matang untuk menyerang. Namun sebelum melakukan penyerangan Nuku sempat mengirim surat kepada Kamaludin meminta bergabung melawan penjajahan. Dan akhirnya tepat pada 12 April 1797, 70 kora–kora tiba di Tidore. Sayangnya Kamaludin beserta Gubernur V.O.C dan pasukannya melarikan diri ke Ternate. Disambutlah masyarakat Tidore atas kedatangan Nuku dan pasukannya. Semalam itu pun juga Kamaludin dan pasukannya kembali ke Tidore dan mengangkat Nuku sebagai Sultan.
Revolusinya belum sampai di situ. Muridan juga menjelaskan bahwa Nuku kemudian mengatur siasat untuk penaklukan Ternate (1798–1801 ). Terjadi peperangan hingga pengepungan dan akhirnya Ternate menyerah walaupun Gubernur Belanda tidak mengakui kekalahannya. Pada 1801 Sultan Nuku akhirnya dinobatkan oleh pihak Inggris, suatu pengakuan penting bagi bangsa Eropa. Inggris menyebut Tidore sebagai sekutu dan hubungan Tidore dalam kesetiaan, persahabatan dan persekutuan kemudian Tidore mendapat kedudukan sebagai negara merdeka.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.