Fasilitas Karantina dan Jumlah Tenaga Medis
Lokasi yang disiapkan sebagai tempat karantina pasien positif COVID-19 ditolak ramai-ramai oleh warga. Penolakan itu terjadi gedung Asrama Haji Ternate di Kelurahan Ngade, gedung Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di Kelurahan Dufa-Dufa, Grand Majang Hotel Kelurahan Kampung Pisang, dan sejumlah titik lainya. Penolakan itu dilakukan dengan membentangkan tulisan bertuliskan “Kami Tolak Tempat Ini Menjadi Lokasi Karantina” .

Menanggapi aksi penolakan itu, Juru Bicara Penanganan Percepatan COVID-19 Kota Ternate dr Muhammad Sagaf mengaku, penolakan terjadi karena minimnya sosialisasi Gugus Tugas terhadap masyarakat setempat.
“kita akan pelan-pelan melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” kata dr Muhammad Sagaf, 7 Mei 2020.
Meski ditolak warga di beberapa tempat, Pemerintah Kota Ternate berhasil mendapatkan dua hotel untuk dijadikan lokasi karantina pasien terkonfirmasi reaktif rapid test dan pasien terkonfirmasi positif COVID-19, yakni Hotel Vellya dan Hotel Dragon.
Muhammad Sagaf mengungkapkan, dua tempat ini sudah mulai ditempati pasien terkonfirmasi positif sejak bulan Mei-Juni 2020. Namun karena setiap hari pasien terus bertambah banyak, pasien berstatus OTG (orang tanpa gejala) dipulangkan untuk melakukan karantina mandiri di rumah.
“Karena dua hotel yang digunakan sudah penuh jadi pasien positif dengan status OTG kita lakukan karantina mandiri di rumah dengan pengawasan perawat di puskesmas lingkungan yang ditinggali pasien,” kata Muhammad.
Dalam penanganan COVID-19 di Ternate, jumlah tim medis yang disiapkan sebanyak 45 orang. 8 di antaranya ditugaskan di puskesmas, ruang isolasi sebanyak 4 orang, dan RSUD Chasan Boesoirie sebanyak 31 orang. 2 di antaranya merupakan dokter spesialis paru yang menangani pasien COVID-19.
Adapun penanganan sejumlah pasien positif COVID-19 yang tidak memiliki gejala hanya diberi vitamin C dan vitamin E, ditambah dengan menjaga pola makan, minum susu dan berolahraga.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.