Teriakan Protes Pedagang di Pasar Higienis
Di tengah-tengah himpitan ekonomi di masa darurat pandemi, sejumlah pedagang di pasar Higienis Bahari Berkesan Kelurahan Gamalama, Kota Ternate mulai gerah dengan penerapan protokol kesehatan. Akibatnya, pada 03 Mei 2020, muncullah gelombang protes dari pedagang secara besar-besaran. Usut punya usut, ratusan pedagang ini protes karena Pemerintah Kota Ternate mengeluarkan kebijakan pembatasan jumlah pedagang di pasar tersebut. Sementara di lain sisi, akses bandara di Ternate tetap dibuka.
Nurhayati, seorang pedagang di pasar itu mempertanyakan alasan Pemerintah Kota Ternate membatasi jumlah pedagang, sedangkan akses Bandara Sultan Babullah Ternate tetap dibuka.

“Kami dilarang jualan di pasar sementara Bandara Babullah Ternate dibuka. Kami ini tidak membawa virus, yang bawa virus itu orang dari luar yang masuk ke Ternate,” kesal Nurhayati.
Menanggapi itu, Sekretaris Kota Ternate, Thamrin Alwi justru mengungkapkan aksi protes para pedagang ini berkaitan dengan penataan tempat berdagang. Di mana ada sejumlah pedagang yang enggan dipindahkan.
“Ada pedagang yang tidak mau dipindahkan. Saat ini pandemi jadi Pasar Higenis Bahari Berkesan harus ditata agar tidak berdempetan,” kata Thamrin.
Mengenai alasan Bandar Udara Sultan Babbullah Ternate tidak ditutup, Thamrin beralasan karena bandara itu merupakan pintu masuk utama orang-orang dari luar daerah sehingga tidak ditutup meskipun di rentang waktu bulan berjalan jumlah kasus baru COVID-19 yang tumbuh sudah mencapai 99 orang.
“Kita tidak bisa tutup bandara, jika ada instruksi dari pusat jika bandara ditutup baru kita minta agar ditutup,” kata Thamrin kala itu. Dia menegaskan, menutup atau membuka bandara adalah kewenangan Pemerintah Pusat yaitu Kementerian Perhubungan.
Di tengah-tengah gelombang protes itu, kasus baru COVID-19 di Maluku Utara terus naik. Kondisi ini bahkan memaksa perayaan Hari Raya Idul Fitri 1441 H pada 24 Mei 2020 dilakukan menggunakan standar protokol kesehatan.
Tinggalkan Balasan