Pihaknya menyarankan, mengenai mesin PCR yang sudah ada di RSUD dan sementara persiapan untuk running maka prioritas pemeriksaan dilakukan pada mereka yang butuh follow up setelah dinyatakan positif. Sementara kasus baru bisa diperiksa melalui TCM atau Laboratorium Prodia.

“Dan kami meminta pemerintah mempertimbangkan ulang secara serius rencana isolasi atau karantina mandiri pasien positif di rumah karena ketidaksiapan masyarakat,” kata dia.

Hal itu diakuinya karena tak ada jaminan pengawasan dari petugas kesehatan yang terbatas jumlahnya. Sebaiknya opsi penambahan tempat karantina dipilih sehingga peluang menularkan virus dapat diatasi.

Jika pasien, lanjutnya, sedang dalam antrean menunggu swab, maka ia menyarankan agar dua mesin TCM yang ada di RSUD Chasan Boesoerie ditempatkan di RS dukungan rujukan sesuai SK gubernur sehingga daerah tidak lagi merujuk pasien rapid test ke Ternate untuk swab.

“Bisa langsung swab dan mendapatkan hasilnya di RS Tobelo, Labuha dan Sanana. RSUD Chasan Boesoerie hanya mengoperasikan mesin PCR yang kapasitas runningnya lebih besar atau bisa 100 spesimen per hari.”

Berkaitan dengan itu, ia juga menyarankan agar ada pembagian penanganan pasien. Untuk kategori sedang berat atau yang butuh penanganan serius bisa dirujuk ke RSUD Chasan Boesoerie.

Sedangkan pasien dengan kategori sedang ringan atau OTG bisa dirawat atau dikarantina di daerah yang ada RS dukungan. Ini jika disetujui ditetapkan melalui keputusan Gubernur.

“Tujuannya selain menghindari penumpukan di Ternate, juga bisa memberi waktu istirahat yang cukup bagi tenaga kesehatan karena hanya fokus pada pasien dengan ketegori sedang berat,” ucapnya.

“Khusus untuk Ternate, agar penegakan diagnostik bisa cepat dan efisien maka semua kontak erat dengan pasien positif sebaiknya langsung diswab test. Rapid Test sebaiknya hanya dilakukan secara massal untuk fasilitas publik pada waktu tertentu saja,” tandas Asghar.