Tandaseru — Potongan video berdurasi 26 detik tiba-tiba muncul lewat pesan WhatsApp. Dari puncak bersalju Interlaken, sebuah kota di Swiss, terdengar suara yang begitu familiar. Suara itu mendoakan segala kebaikan saya, tepat di hari terakhir tahun 2023.

Suara familiar itu milik Faisal “Opo” Anwar. Pemuda yang baru saja berulang tahun ini beberapa pekan belakangan meramaikan beranda Facebook dengan unggahan-unggahan penuh inspirasi dari berbagai penjuru benua biru.

Opo adalah seorang yang humoris dan supel. Ia bergaul dengan semua kalangan tanpa membedakan, baginya banyak teman adalah kebahagiaan. Ia juga terkenal di kalangan anak muda hampir se-Maluku Utara. Tetapi itu tidak mengubah karakternya yang cepat kenal dan dekat dengan orang.

Opo lahir di Dili pada 13 Januari 1994, anak ke-3 dari empat bersaudara. Kehidupannya dibentuk oleh perjuangan ekonomi keluarga, di mana orangtuanya, mendiang Anwar Hamisi dan Asma Podo, gigih berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Masa kecilnya dihabiskan di Kelurahan Topo, Kota Tidore Kepulauan, di mana Opo terbiasa dengan keterbatasan ekonomi keluarga.

Ibunya hanya seorang penjual kue keliling di kampung halamannya di Topo. Opo hampir setiap sore membantu ibunya berjualan kue. Walaupun dengan keterbatasan ekonomi keluarga, Opo kecil tidak pernah putus semangat untuk tetap sekolah demi mengejar cita-cita.

Tantangan Opo sebenarnya muncul ketika bersekolah di SMP Negeri 6 Kota Tidore, di mana kesulitan membayar uang sekolah membuatnya memerlukan bantuan surat keterangan keluarga tidak mampu dari kelurahan. Walau dalam kondisi yang sulit, Opo berhasil lulus.

Perjuangan Opo terus berlanjut. Saat berada di SMA Muhammadiyah 3 Kota Tidore, impiannya melanjutkan ke SMA negeri harus terhenti lagi akibat keterbatasan ekonomi. Meskipun demikian, Opo tidak menyerah. Setelah lulus SMA, ia memutuskan untuk bekerja di koperasi di kampungnya, memberikan kontribusi untuk membantu keluarga.