Oleh: Sofyan A Togubu
Pegiat Literasi
_________
SENJA baru saja menyingsing, meninggalkan secercah cahaya kuning yang masih menempel di atap langit. Suara angin yang lembut masih menghantui kuping, datang dan pergi meninggalkan keheningan yang membeku. Dua buku baru yang diberikan oleh teman masih terbungkus rapi dalam plastik, kini perlahan disingkirkan dari penutup plastiknya. Dua judul buku tersebut adalah “ALDERA: Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999,” yang ditulis oleh tim Teddy Wibisana, dan “SDGs Desa: Percepatan Pencapaian,” karya A. Halim Iskandar. Halaman pertama dari kedua buku ini baru saja disentuh. Tiba-tiba, ponsel saya berdering, menandakan ada panggilan masuk. Di layar ponsel muncul nama “Bang M. Kubais M. Zeen,” seorang penulis esai dan editor di salah satu media online di Maluku Utara.
Ia mengundang saya untuk berkunjung ke kediaman Pak Muliadi Tutupoho, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Maluku Utara. Dalam kesempatan ini, terbesit ide untuk memberikan satu buku, “Sabda Candu: Kumpulan Cerita Pendek,” yang akan saya berikan kepada Pak Mul, panggilan akrabnya. Saya segera mengambil motor dan menemui Bang Kubais. Tidak lama kemudian, kami tiba di rumah Pak Mul, yang terletak di Tabona, puncak Kota Ternate.
Di teras rumahnya, terlihat potongan baliho kecil dengan wajah para ulama menempel di dinding, menyambut tamu dengan ramah. Pemandangan indah di tengah malam pun menambah kenyamanan, dengan sepertiga pusat kota yang terlihat jelas. Konon, teras rumah ini tidak hanya sebagai tempat untuk bersantai, tetapi juga tempat diskusi dan obrolan sambil menikmati secangkir kopi hitam. Terbukti, tiga cangkir kopi hitam telah diletakkan di atas meja, berdampingan dengan Alquran, menandakan Pak Mul baru saja menyelesaikan salat sebelum menyambut kami.
Setelah berjabat tangan, dalam percakapan awalnya, Pak Mul berbagi cerita tentang Nuaiman, seorang sosok yang sering membuat Rasulullah tertawa. Cerita ini mengajarkan kami nilai humor dan kebahagiaan dalam kehidupan. Lalu, ia membawa kami ke topik fenomena literasi di Maluku Utara saat ini. Saya sambil mencatat informasi penting di ponsel saya, mendengarkan dengan seksama.
Menurutnya, pemahaman kita tentang literasi masih terbatas pada keterampilan dasar membaca dan menulis. Ia memberikan contoh festival literasi yang menghadirkan penyanyi, dan pertanyaan muncul mengapa penyanyi ikut berpartisipasi dalam acara literasi. Pemahaman ini masih berada pada level dasar, belum menyentuh inklusi sosial. Ia menunjukkan bahwa bahkan para penyanyi pun telah mengembangkan literasi dalam bidang musik sebelum mempraktikkannya.
Sambil berlangsungnya percakapan dan di sela-sela waktu saya membaca satu referensi sumber dari krjogja.com tentang tingkatan literasi dari artikel berjudul “Lima Tingkatan Literasi yang Harus Dipahami dan Didalami Masyarakat.” Dijelaskan bahwa literasi memiliki beberapa tingkat: pertama, kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung. Kedua, akses terhadap bahan bacaan yang akurat dan beragam. Ketiga, pemahaman akan makna tersurat dan tersirat. Keempat, kemampuan menggunakan kreativitas sebagai antisipasi terhadap perkembangan teknologi. Kelima, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat diaplikasikan untuk menciptakan barang atau jasa dalam konteks global.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.