Tandaseru — Komite Emansipasi Perempuan-Maluku Utara (KEP-MU) menggelar aksi memperingati Hari Perempuan Sedunia, Rabu (8/3). Aksi dipusatkan di depan kantor wali kota Ternate.
Massa aksi menyebutkan, kekerasan seksual terhadap perempuan kian masif di Malut, entah itu di pabrik, pertambangan ekstraktif, sekolah, rumah hingga kampus yang tak kunjung usai.
Mirisnya lagi, pemerintah beserta antek-antek kekuasaan diam merespon persoalan tanpa memikirkan jalan keluar dari semua itu.
“Semestinya pemerintah harus punya perhatian terhadap hal yang sedemikian sehingga apa yang menjadi persoalan yang dihadapi oleh perempuan itu bisa diatasi. Belum lagi persoalan izin usaha pertambangan yang terus menggerogoti Provinsi Maluku Utara yang tanpa sadar telah menggeser perempuan dan bahkan masyarakat secara umum dari ruang hidupnya, akibat dari dampak pertambangan, pencemaran air bersih, perampasan tanah dan masih banyak lagi,” ujar Koordinator Lapangan Fitria Risman.
“Kemarin kami ada dokumentasi terkait dengan perempuan kondisi hamil besar tapi masih dipekerjakan. Bukan hanya satu buruh perempuan tapi perempuan hamil di sana dipekerjakan aktif, tidak diberikan cuti,” jelasnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.