Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
_______
ENTAH, apa dasar pemikiran para pendahulu, sehingga Guruapin, ibukota Kecamatan Kayoa itu diletakkan pasar dengan ukuran lumayan besar, yang hanya beberapa langkah dari pelabuhan laut. Selemparan tombak dari kawasan itu, berdiri juga dengan kokoh masjid besar nan megah yang menurut informasi warga, menelan biaya kurang lebih tiga milyar rupiah dari usaha swadaya masyarakat. Setidaknya, strategi itu efektif, dengan memusatkan pelabuhan, pasar, dan masjid dalam satu area. Itulah yang saya lihat dan rasakan ketika pada bulan Juli 2018 lalu pertama kali menginjak kaki ke Guruapin Kayoa.
Konteks perpaduan tiga komponen (pelabuhan, pasar, masjid) ini mengingatkan saya akan tesis Weberian (Max Weber, 1864-1920) tentang etos dan asketisme. Pelabuhan dan pasar merupakan cerminan atas etos kerja dan semangat “kapitalisme” sementara masjid merupakan representasi asketistik (askese). Pertautan itu, kemudian menghasilkan kehidupan sosial yang guyub, tenang, dan harmoni.
Pusat-pusat ekonomi itu bergerak sesuai dinamikanya tanpa saling disesap dengan aktivitas lain. Dan, ketika siang hampir tiba, pasar dan pelabuhan kembali lengang. Masjid pun bergeliat dengan rutinitas religi.
Pada tiga kawasan terintegrasi itu, berjejal rapih rumah-rumah penduduk yang seirama, sama tinggi, dan tak ada yang menonjol, dengan pagar kayu/bambu setinggi pinggang orang dewasa.
Menyusuri jalanan kecil di Guruapin yang diratakan dengan semen, terlihat beberapa ruas jalan beraspal yang tercukur, dan setiap perjalanan itu, kita merasakan atmosfir keguyuban, kerukunan, dan ketenangan dari sebuah kehidupan segmental. Ada senyum, tegur sapa yang tulus dari warga yang berpapasan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.