Oleh: Anwar Husen
Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara
_______
DIAM-diam, setiap kita menyimpan gambaran diri tentang sosok tertentu yang menjadi idaman. Kehadirannya sering kali menyisakan ketenangan yang mendalam. Tak hanya ekspresi fisik, batin pun serasa berpaut dan sedang untuk saling memeluk erat.
Lama tak bersua, kediaman saya semalam disambanginya. Kami bersepakat nongkrong dan berdiskusi singkat di sebuah warung kopi di Tidore.
Karib ini namanya Ma’ruf Badar. Dia adalah pengurus DKM Masjid Shafful Khairaat, Sofifi, sekaligus kakak kandung Jihadiyah Badar, qaria yang pernah meraih predikat juara dunia.
Dari Keluarga Sederhana yang Teguh Memegang Prinsip
Ma’ruf terlahir dari keluarga yang orientasi hidupnya sangat kental dengan nilai-nilai keagamaan. Prinsip hidup yang diyakininya amat kuat. Dulunya, ia pernah menjadi staf saya di kantor Dinas Pendidikan Kota Tidore Kepulauan. Saudara-saudaranya ada yang menjadi mubalig, guru agama, guru ngaji, bahkan qaria juara dunia. Menyebut kiprah organisasi kemasyarakatan dan keagamaan Muhammadiyah tanpa menyebut keluarga ini terasa tidak lengkap, baik di Kota Tidore Kepulauan maupun di Maluku Utara secara umum.
Representasi Staf yang Ideal
Saya merasa beruntung pernah memiliki staf seorang Ma’ruf di kantor dulu. Ia tipikal pekerja keras, peduli, loyal, penuh inisiatif, dan memiliki tanggung jawab institusional yang kuat. Dan yang paling penting, Ma’ruf adalah orang yang dengan segala risiko bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya demi memperjuangkan suatu nilai yang diyakininya benar. Ma’ruf bisa dibilang merepresentasi sosok ideal seorang staf.
Ada sisi kemiripan di antara kami. Saya merasa memiliki “bamper” yang cukup dari seorang Ma’ruf ketika berhadapan dengan beragam kepentingan pribadi, bahkan “misi terselubung” yang umum terjadi di kantor manapun, yang bisa mengancam setiap waktu. Maklum, kantor tersebut mengelola orang, aset, dan uang daerah yang tidak sedikit kala itu. Beragam kepentingan bermain di sana. Banyak pula tipikal “musang berbulu domba” yang menjebak dan sulit dikenali. Bagi saya, seorang Ma’ruf adalah tipikal penasihat (advisor) yang dapat diandalkan.
Ma’ruf Badar adalah tumpuan pimpinan. Meski diam-diam, pengalaman seorang pimpinan institusi di tingkat mana pun pasti merindukan tipikal seperti ini, disadari ataupun tidak.
Lingkungan Baru yang Menantang
Saat beralih tugas (berhijrah) sebagai ASN di Pemerintah Provinsi Maluku Utara pada 2016, kami bertemu di sana. Ia kembali menjadi staf di Dinas Pendidikan Provinsi. Kantor barunya yang semalam kami bahas bisa menjadi refleksinya untuk membandingkan kinerjanya setelah melewati beberapa pimpinan, dibandingkan dengan kantor lamanya dulu di Tidore.
Setiap pimpinan instansi pemerintah yang pernah melewati banyak jenjang jabatan pasti memiliki kesan yang dirasakan—atau manusiawi jika dibandingkan. Sejujurnya, saya merasa bahwa pernah menjadi atasan dari seorang Ma’ruf adalah keindahan tiada tara dalam karier, bahkan dalam hidup saya.
Kebetulan, di antara tema obrolan santai semalam adalah soal manajemen pengelolaan operasional masjid yang menjadi tugas pokoknya saat ini. Tentu seorang Ma’ruf tidak main-main dalam menjaga reputasi sebuah masjid raya megah di jantung Sofifi, ibu kota Provinsi Maluku Utara.
Ada sisinya yang menarik karena memantulkan ketegasan sikap yang berpadu utuh dengan pemahaman dan argumentasi logis, yakni soal bagaimana pengeras suara di dalam dan di luar masjid seharusnya difungsikan. Soal apa dan bagaimana fungsinya di luar fungsi utamanya, yaitu azan; tidak seperti kebanyakan orang yang kurang memahaminya, hingga terlihat nyaris tidak ada bedanya antara tempat ibadah dan studio musik.
Bagi Ma’ruf, setiap orang sibuk dengan urusannya mencari nafkah hidup. Kita tidak mungkin memaksakan orang lain untuk mengikuti selera kita yang juga belum jelas dalilnya. Bahkan lebih ekstrem, di tengah kawasan Sofifi dengan potensi keberagaman latar belakang agama, tidak mungkin memaksakan seorang pendeta mendengarkan pengajian dari menara masjid.
Ia menekankan bahwa ajaran agama itu harus dipahami secara utuh, bukan sekadar ikut-ikutan kebiasaan yang berpotensi terjebak riya tanpa disadari, ataupun taklid buta.
Pada kasus tertentu, Ma’ruf bahkan berargumen bahwa dirinya adalah guru mengaji dari Jihadiyah Badar, saudaranya yang pernah menjuarai MTQ tingkat dunia. Sementara itu, mereka yang berdebat mungkin belum pernah mengikuti lomba, atau bahkan belum pernah menjuarai lomba MTQ tingkat kecamatan sekalipun. Argumentatif dan rasional.
Sejujurnya, sisi menarik lain dari seorang Ma’ruf adalah kemampuannya menjelaskan latar pandangan dan pendapatnya dengan argumentasi yang logis, runtut, dan kuat. Tidak mudah menyanggahnya. Sisi inilah yang kerap membuat dirinya layak dikagumi.
Sisi menarik lain dari obrolan itu adalah ketika Ma’ruf mengutip frasa “mabuk agama”. Ini adalah ungkapan nonbaku yang sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengamalkan agama secara berlebihan hingga mengabaikan logika, akal sehat, ilmu pengetahuan, serta rasa kemanusiaan.
Ciri-ciri yang Sering Diidentifikasi
Orang yang dicap mengalami “mabuk agama” biasanya diidentifikasikan dengan beberapa sikap berikut:
Kehilangan Rasionalitas
Mengedepankan obsesi buta sehingga tidak lagi menggunakan nalar atau berpikir jernih layaknya orang mabuk. Sering mengidentifikasi diri sebagai orang yang berpengetahuan cukup untuk memberi nasihat agama kepada orang lain, meski tidak memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dan pemahaman literatur yang memadai. Tindakannya sering dipicu oleh motivasi agar terkesan seolah-olah ahli atau alim. Wilayah agama dimasukinya secara buta dan dijustifikasi demi kepentingan ego pribadi. Ini merupakan perilaku merusak yang paling berbahaya dan sering menjadi penyebab kerusakan struktural. Potensi terbesarnya ada pada pengelola tempat ibadah.
Fanatisme Sempit
Cenderung merasa paling benar sendiri, menganggap kelompok lain atau yang tidak sejalan sebagai sesat/kafir, serta tidak toleran terhadap perbedaan. Dalam skala yang lebih besar, ciri ini sering terlihat melekat pada kelompok. Kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai pengikut ajaran dan ideologi tertentu cenderung merasa paling benar dan paling mewakili kebenaran. Kehadiran kelompok seperti ini sering mengganggu, bahkan mengancam toleransi dan ketenteraman hidup beragama.
Simbolisme Tanpa Substansi
Terjebak pada atribut atau label keagamaan, tetapi mengabaikan nilai-nilai akhlak, kejujuran, dan kepedulian sosial. Ciri ini lebih melekat pada kedangkalan pemahaman yang bersifat esensial. Hal ini berkaitan dengan tingkatan kesadaran dalam memahami ajaran agama, dan biasanya menggejala pada lapisan pemahaman paling awal (syariat). Tindakannya dilakukan tanpa latar belakang pendidikan yang relevan dan pemahaman yang cukup, tetapi bertingkah yang mengesankan seolah-olah pemegang kunci surga.
Komersialisasi atau Politisasi
Mudah terjebak dalam penipuan atau agenda pihak tertentu yang membungkus kepentingan duniawi (politik atau uang) dengan simbol-simbol agama. Orientasi ini lebih kental melekat pada sosok dan kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai pemuka agama, mubalig, dan politisi berlatar belakang ormas keagamaan tertentu. Gejala komersialisasinya bersifat nasional, dilakoni tanpa merasa telah melenceng dari ajarannya.
Keyakinan yang dibangun tanpa pemahaman utuh tentang esensi dapat mengaburkan, bahkan mengancam substansi.
Ada tempat ibadah yang perdebatannya hingga memicu konflik tentang volume pengeras suara di menaranya tidak pernah selesai selama puluhan tahun. Orang-orang di sekeliling yang diam bukan berarti tanda setuju, dan orang yang bereaksi pun bukan semata karena sering merasa terganggu, melainkan lebih pada upaya meluruskan pemahaman yang keliru. Pemahaman tanpa pengetahuan adalah hal yang paling berbahaya.
Sebab, pemahaman tentang esensi ajaran agama tidak bisa dinisbatkan pada praktik dan kebiasaan yang diwarisi belaka. Pemahaman harus dibangun di atas dasar dalil yang kuat, serta logika yang sehat dan benar.
Mengobrol dengan orang yang tepat, dalam suasana yang dinikmati, serta diimbangi pengetahuan dan pemahaman yang cukup terhadap suatu masalah, selalu saja mengasyikkan—bahkan menghanyutkan hingga lupa waktu yang mulai larut. Namun, hal itu tidak membuat lupa pada pesan, pelajaran, dan makna dari setiap lintasan fakta hidup yang dilalui.
Fakta dan pengalaman hidup sering mengajarkan banyak hal. Ketika menulis singkat tentang sosok seorang Ma’ruf, saya teringat satu hal: telah banyak dari kita yang mungkin sering kali salah menduga terhadap seseorang. Analoginya adalah musang berbulu domba yang merepresentasikan kemunafikan.
Ma’ruf berarti kebaikan. Dan permata kebaikan seorang Ma’ruf, bagi saya, terasa tetap terasah hingga saat ini. Wallahu a’lam. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.