Tandaseru — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, mulai menyusun strategi khusus guna mengantisipasi prediksi lonjakan volume sampah organik maupun anorganik selama bulan suci Ramadan 1447 H.

​Kepala Dinas DLH Pulau Morotai, Djasmin Taher, menyatakan bahwa peningkatan produksi sampah di bak-bak penampungan kini terpantau terjadi dalam hitungan jam. Menanggapi fenomena tersebut, pihaknya memutuskan untuk menambah jam operasional mobil pengangkut sampah jenis Amrol serta melakukan penyesuaian jadwal petugas kebersihan.

​Perubahan Jadwal dan Armada Khusus

​Untuk menjaga efektivitas pengangkutan, DLH melakukan pergeseran waktu kerja petugas di lapangan.

  • ​Penyesuaian Waktu: Petugas yang biasanya bekerja setelah waktu Isya, kini dialihkan ke waktu Subuh.
  • ​Armada Lorong: Selain truk besar, DLH menyiagakan empat unit kendaraan Viar (roda tiga) untuk menjangkau lorong-lorong sempit di pusat kota.
  • ​Lokasi Strategis: Titik penempatan bak sampah dipastikan tetap berada di lokasi strategis, seperti di depan Kantor Samsat, kawasan Central Business District (CBD), dan area Taman Kota Daruba.

​”Aktivitas pengangkutan tetap berjalan normal, hanya waktu operasionalnya yang kami atur kembali untuk memastikan wilayah perkotaan tetap bersih meski volume sampah meningkat,” ujar Djasmin, Kamis (5/1/2026).

​Dampak Terhadap Kesehatan dan Lingkungan

​Seluruh sampah yang terkumpul akan langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Dehegila. Djasmin menekankan bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat.

​Menurutnya, kedisiplinan warga dalam membuang sampah pada tempatnya memiliki dampak langsung terhadap kualitas hidup di Morotai, di antaranya:

  • ​Mencegah Penyakit: Menghindari risiko penyebaran demam berdarah (DBD), diare, dan infeksi kulit.
  • ​Mitigasi Bencana: Mencegah terjadinya penyumbatan drainase yang dapat memicu banjir saat musim hujan.
  • ​Pelestarian Alam: Menjaga kualitas air dan tanah agar tetap bersih bagi generasi mendatang.

​”Jika lingkungan asri, manfaatnya akan dirasakan kembali oleh masyarakat. Sebaliknya, membuang sampah sembarangan hanya akan menjadi sumber penyakit dan bencana,” tutupnya.

Sahril Abdullah
Editor
Irjan Rahaguna
Reporter