Oleh: Fahmi Djaguna

Dekan FKIP UNIPAS Morotai

________

SELAMAT ulang tahun ke-13 Universitas Pasifik (UNIPAS) Morotai, 5 Februari 2026. 13 tahun bukan sekadar angka. Ia adalah jejak napas panjang sebuah ikhtiar. Ia adalah nyala kecil yang dijaga agar tak padam oleh angin, hujan, dan gelombang zaman. Di beranda Pasifik di pulau yang sering disebut jauh, UNIPAS Morotai memilih satu peran yang tak glamor, tapi menentukan yaitu menjadi mercusuar pendidikan.

Morotai adalah lanskap harapan. Pulau dengan potensi alam, sejarah dunia, dan masa depan pariwisata dunia. Namun potensi, tanpa pendidikan, hanya tinggal cerita. Di sinilah UNIPAS Morotai berdiri di antara laut biru dan keterbatasan, di antara mimpi besar dan realitas pinggiran. Kampus ini bukan sekadar bangunan; ia adalah keputusan moral, bahwa anak-anak di perbatasan berhak atas ilmu setara dengan pusat.

Sebelum melangkah lebih jauh, penulis mengirimkan doa kepada para pendiri yang telah mendahului. Semoga segala ikhtiar mereka diterima sebagai amal jariyah. Kepada para pendiri yang masih membersamai zaman, hormat setinggi-tingginya. Keberanian dan visi Anda adalah fondasi. Tanpa keberanian itu, kampus ini mungkin tak pernah berdiri. Terima kasih, dari generasi yang melanjutkan.

13 tahun perjalanan UNIPAS Morotai bukanlah jalan lurus. Ia pernah digoyang oleh keterbatasan sumber daya, jarak serta perubahan kebijakan. Dan pernah goyah olehgodaan untuk menyerah. Namun ia tidak tergoyah. Karena yang dijaga bukan sekadar institusi, melainkan api. Api keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling masuk akal untuk memuliakan daerah.

UNIPAS Morotai melangkah dengan visi yang jelasyakni unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berbasis potensi lokal menuju universitas berstandar nasional 2045. Ini bukan jargon. Ini adalah kompas. Di pulau, visi adalah pegangan. Tanpa visi, kampus hanya menjadi penumpang dan dengan visi, ia menjadi pengarah.

Di beranda Pasifik, membangun sumber daya manusia adalah kerja sunyi. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu cepat. Tetapi menentukan. Di ruang-ruang kelas sederhana, di laboratorium yang tumbuh perlahan, di perpustakaan yang terus dirawat, UNIPAS Morotai menanam benih. Sebagian mungkin baru tumbuh besok. Sebagian lusa. Pendidikan memang demikian, ia bekerja dalam waktu panjang.

Gaya pembangunan kita sering tergoda oleh hasil instan. Pendidikan menolak godaan itu. Ia memilih ketekunan. Seperti menyalakan lampu di tengah kabut. Tak langsung mengubah dunia, tetapi memberi arah. UNIPAS Morotai memilih peran ini dan menjadi lampu. Menjadi mercusuar. Tidak berisik, tetapi konsisten.

Di sini, kampus bukan hanya tempat kuliah. Ia adalah ruang sosial. Ruang kebudayaan. Ruang perjumpaan. Ia mengikat dosen, mahasiswa, dan masyarakat dalam satu simpul untuk memajukan Morotai dengan akal sehat. Dari riset berbasis lokal, pengabdian kepada masyarakat, hingga penguatan literasi kampus hadir bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai tetangga.

13 tahun mengajarkan satu hal penting, bertahan di pinggiran membutuhkan ketangguhan batin. Ketika fasilitas terbatas, semangat harus berlipat. Ketika jarak jauh, solidaritas harus didekatkan. Ketika anggaran sempit, imajinasi mesti luas. Inilah etos UNIPAS Morotai; kerja keras yang tenang.

Masa depan menanti. Tantangannya juga nyata. Digitalisasi. Daya saing nasional. Kualitas riset. Tata kelola. Namun satu modal sudah ada dan tak ternilai yakni komitmen. Selama komitmen itu dijaga, selama api pendidikan itu dirawat, UNIPAS Morotai akan tetap menyala dan apa punbentuk musimnya.

Dan pada usia 13 tahun ini, kita tidak sedang merayakan kesempurnaan. Kita merayakan keberlanjutan. Kita merayakan keberanian untuk terus ada. Terus belajar. Terus memperbaiki diri. Di pulau perbatasan, keberlanjutan adalah prestasi.

Akhirnya, selamat ulang tahun kampusku, UNIPAS Morotai. Teruslah menjadi mercusuar di beranda Pasifik. Teruslah menjaga api pendidikan, agar ia menerangi jalan generasi hari ini dan esok. Karena dari pinggiran, masa depan Indonesia bisa dinyalakan. (*)