Oleh: Anwar Husen
Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara
________
Dan ketika sukses meraih targetnya, media seolah berebutan memujinya setinggi langit. Hasilnya yang dilihat, cara-cara kotornya begitu mudah terlupakan. Ini sebuah fakta paradoks yang sulit dinalar. Mungkin beginilah siklus baru membangun peradaban yang penuh kepalsuan.
MEDIA Kompas.com edisi 23 Februari 2026 rubrik Lifestyle, mengulas judul ini, Fenomena Berangkat dari Nol, Pencitraan Pernah Hidup Susah.
Saya mengutip potongan beritanya: Belakangan ini, semakin banyak bermuncul kecenderungan “unik” di ruang publik, yaitu ketika orang-orang yang hidup dalam kenyamanan sejak kecil, malah menarasikan masa lalu yang sulit. Entah itu hidup serba pas-pasan, rumah sempit yang dihuni oleh beberapa anggota keluarga, atau jarang beli baju baru, narasi palsu ini menutupi kondisi sebenarnya tentang bagaimana mereka tumbuh. Standar moral “berangkat dari nol” yang menitikberatkan pada kemampuan, prestasi, dan kompetensi, alias meritokrasi, membuat beberapa orang dengan privilese mengarang kisah hidupnya supaya “lebih diterima” oleh masyarakat umum. Narasi ‘berangkat dari nol’ telah berubah dari sekadar kisah biografis menjadi standar moral dalam masyarakat meritokratis. Dalam logika kapitalisme modern, kerja keras dan penderitaan dianggap bukti keaslian moral, tutur sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta [UNJ], Syaifudin, M.Kesos, ketika dihubungi Kompas Lifestyle Senin [23/2/2026].
Ini fenomena cara pandang terhadap sebuah pencapaian. Dalam pandangan Syaifudin, memalsukan kisah hidup ini berkaitan erat dengan cara masyarakat memandang keaslian sebuah pencapaian di era modern. Kesuksesan tanpa penderitaan dicurigai kurang otentik. Secara sosiologis, ini berkaitan dengan mitos meritokrasi berupa keyakinan bahwa semua orang memulai dari titik yang sama.
Kurang lebih apa yang diungkap sosiolog tadi, pernah sedikit disinggung ketika saya menulis sosok seorang rektor perguruan tinggi di Maluku Utara [Tandaseru.com, 20 Februari 2025]: Di era ini, ketika akses terhadap karir dan jabatan publik bisa diraih dengan segala macam cara, dari menginjak teman, menampilkan kesan manipulatif hingga kental perilaku suap, kita sulit melacak orisinalitas dan autentikasi integritas diri, kompetensi dan komitmen personal.
Mirip ungkapan lama seorang Charlie Chaplin [1889-1977]. Seorang pelawak, sutradara dan komposer film paling terkenal dari Inggris, pada era film bisu, dan dianggap salah satu tokoh penting dalam sejarah industri film. Ada Anomali dan potongan ungkapan lucunya bahwa, saya pernah menyamar dan ikut dalam lomba “Paling Mirip Charlie Chaplin”, dan mendapatkan peringkat kedua. Sementara peringkat pertama jatuh pada anak dari Ketua panitia lomba.
Hingga menulis biografi, sekurang-kurangnya profil singkat seseorang karena sebab meraih jabatan publik yang terhormatpun, jadi terasa hambar dan tak laku. Kita butuh sedikit kepekaan dalam melihat “ruang kosong” lain sebagai angle.
Di beberapa platform media sosial, gejala ini terlihat mewabah. Hari ini seseorang dilantik untuk jabatan tertentu, atau atas prestasi dan pencapaian tertentu, hari ini juga kisah masa awalnya yang pernah hidup susah, menjamur di berbagai platform media sosial khususnya, tak penting sumber apa yang dirujuk. Media sosial memang harus diakui jadi tempat mengobral “kepalsuan” paling efektif. Kita mungkin percaya-percaya saja, karena jejak digitalnya sulit terlacak. Semua hanya “SK mulut” [diungkapkan dengan mulut]. Era digitalisasi secara signifikan dimulai pada awal 1980-an dengan peralihan dari teknologi mekanik/analog ke teknologi digital. Era ini semakin pesat dengan munculnya internet, komputer pribadi, dan telepon seluler pada akhir 1990-an hingga 2000-an, yang mengubah cara berkomunikasi dan berbisnis secara global.
Benar bahwa riwayat kehidupan masa lalu yang sulit, sering membuat orang terlecut motivasinya untuk mengubah nasib dan masa depan. Bentuknya bisa beragam. Paling dominan terekam adalah berhijrah meninggalkan kondisi faktual yang kelam itu. Tetapi caranya juga berintegritas dan terhormat? Di sini masalah intinya. Tak boleh juga sukses itu mau diraih dengan segala cara.
Analog, seorang kepala daerah petahana berupaya meraih modal besar dengan segala cara, termasuk penyalahgunaan kewenangan berbentuk korupsi untuk memenangkan lagi kontestasi di periode kedua. Dan ketika sukses meraih targetnya, media seolah berebutan memujinya setinggi langit. Hasilnya yang dilihat, cara-cara kotornya begitu mudah terlupakan. Ini sebuah fakta paradoks yang sulit dinalar. Mungkin beginilah siklus baru membangun peradaban yang penuh kepalsuan. Wallahua’lam. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.