Oleh: Fahmi Djaguna
Mantan Sekretaris Umum DPD KNPI Morotai 2012-2015
_______
SAYA teringat satu sore pada tahun 2012. Di Kantor Bupati Pulau Morotai, saya dan beberapa kawan duduk berdiskusi dengan Bupati periode pertama, Bapak Rusli Sibua, yang akrab disapa Ko Uci. Saat itu kami sedang membicarakan rencana melanjutkan studi S2, bersamaan dengan niat besar beliau membangun sebuah universitas di Morotai. Sebuah visi yang kala itu terdengar utopis, namun kini nyata dan berdiri kokoh sebagai Universitas Pasifik(UNIPAS) Morotai.
Di tengah diskusi itu, Ko Uci menyampaikan satu analogi tentang pemuda Morotai yang hingga kini terasa relevan, bahkan semakin relevan. Katanya, pemuda Morotai berbeda dengan Halmahera Utara, dikalah Beliau sempat Kadis di Halut. Di Halut, untuk mengamankan dinamika pemuda, cukup “menangkap kepalanya”, maka semuanya tuntas. Tapi di Morotai, jika hanya mengamankan kepala tanpa mengamankan ekor (anak buah), maka ekor itu kelak akan tumbuh menjadi kepala baru. Kami tertawa sore itu. Tapi hari ini, analogi itu tak lagi lucu. Ia menjelma kenyataan.
Hari ini, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Morotai seperti kehilangan arah. Isu yang berkembang menyebutkan ketua definitif “dikudeta” melalui rapat pleno. Tuduhannya klasik; penyalahgunaan wewenang, lemahnya konsolidasi, dan sikap yang dianggap terlalu personal dan buka kolektif membawa lembaga sekelas KNPI. Media sosial pun berubah menjadi ruang sidang publik. Vonis dijatuhkan sebelum refleksi dilakukan.
KNPI seharusnya menjadi rumah besar gagasan, bukan sekadar arena rebutan kursi. Ia adalah institusi strategis yang mestinya memikirkan generasi, bukan generasi berikutnya dalam struktur, melainkan generasi Morotai sebagai subjek sejarah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. KNPI Morotai sibuk berdebat tentang siapa berhak memimpin, tapi lupa menjawab untuk apa kepemimpinan itu ada.
Inilah yang saya sebut sebagai kekosongan arah. Organisasi berjalan, rapat digelar, pleno dilaksanakan, tetapi visi tidak bergerak. Energi habis untuk konflik internal, sementara Morotai sebagai beranda Pasifik dan simpul geopolitik masa depan, bergerak tanpa panduan pemuda. Padahal, daerah ini membutuhkan pemuda yang berani berpikir jauh, keras pada diri sendiri, dan tegas pada kekuasaan.
Morotai tidak kekurangan pemuda. Yang langka adalah pemuda dengan idealisme yang terorganisir. Kita lupa pada pesan Tan Malaka: “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Ketika pemuda kehilangan idealisme, yang tersisa hanyalah ambisi tanpa arah. Organisasi lalu berubah menjadi kendaraan personal, bukan alat perjuangan kolektif.
Krisis KNPI Morotai bukan semata soal siapa yang salah atau benar dalam pleno. Ini krisis yang lebih dalam yaitukrisis kepemimpinan ide, krisis konsolidasi nilai, dan krisis keberanian moral. Kita terjebak pada prosedur, tetapi abai pada substansi. Kita ribut soal legitimasi, tetapi lupa pada relevansi.
Pramoedya Ananta Toer pernah menulis dengan getir, “Indahnya dunia ini jika pemuda masih tahu perjuangan!” Kalimat ini terasa seperti tamparan. Sebab perjuangan pemuda hari ini sering kali berhenti pada perebutan simbol, bukan perombakan struktur. Pada jabatan, bukan pada gagasan.
Jika benar telah terjadi pleno pergantian ketua, maka peristiwa itu seharusnya dibaca sebagai alarm, bukan kemenangan. Alarm bahwa KNPI Morotai membutuhkan reset total dan bukan hanya figur, tetapi arah. Konsolidasi internal penting, tetapi konsolidasi gagasan jauh lebih mendesak. Tanpa visi yang jelas, ketua baru hanya akan mengulang siklus lama; konflik, fragmentasi, dan stagnasi.
KNPI Morotai mesti keluar dari politik internal yang sempit dan kembali pada mandat sejarahnya dengan menjadi motor kritik sosial, inkubator kepemimpinan, dan penjaga masa depan daerah. Pemuda tidak boleh jinak di hadapan kekuasaan, tetapi juga tidak boleh saling memakan di ruang internal. Kritik ke luar harus sekeras disiplin ke dalam.
Narasi ini adalah pesan keras, sekaligus harapan. Benahi internal, tetapi jangan berhenti di sana. Susun ulang arah, hidupkan kembali idealisme, dan kembalikan KNPI Morotai sebagai organisasi pemuda yang berani bermimpi besar, sebesar Morotai itu sendiri. Tanpa itu, KNPI hanya akan menjadi artefak organisasi yakni ada namanya, tetapi kehilangan ruhnya. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.