Oleh: Anwar Husen

Pemerhati Sosial/Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara

________

NADIEM sudah pasti tak menduga terminal sementara karir profesionalnya yang lama dirawat: jadi tersangka kasus korupsi.

Nadiem Makarim lahir tahun 1984, adalah pengusaha teknologi dan politikus Indonesia, pendiri Gojek, yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi [2019-2024]. Lulusan Harvard Business School ini mengubah ojek konvensional menjadi layanan decacorn pertama di Indonesia sebelum terjun ke pemerintahan. Sebagai menteri, Nadiem meluncurkan kebijakan “Merdeka Belajar” dan “Kampus Merdeka,” serta menghapus ujian nasional.

Awal ditunjuk sebagai menteri, banyak pihak yang menyayangkannya. Kalangan perguruan tinggi dan praktisi yang telah cukup lama bergelut dan memahami masalah di dunia pendidikan, hanya mengerutkan dahi seolah terkaget-kaget, betapa dunia pendidikan yang menyimpan begitu banyak masalah, bahkan sebagai sumber masalah bangsa, dengan entengnya di bebankan kepada seorang sosok yang di pandang “belum cukup umur”.

Nadiem mungkin terlalu polos untuk menyadari bahwa memasuki wilayah politik dan pemerintahan saat ini, ibarat menggantung di horison. Sama seperti merenungi akhir usia: harap-harap cemas. Nadiem terlihat terlalu “belia” untuk wilayah ini. Kultur profesionalisme dan kompetisi di profesi sebelumnya, tak harus berlaku di sini. Sudah begitu, Nadiem berada di wilayah rezim yang salah, rezim yang dalam satu dekade, menyisakan segudang masalah bangsa yang mengerikan.

Mahfud MD pernah mengingatkan ini. Berhati-hatilah bekerja. Sebab jika tidak, pergantian rezim kekuasaan akan menyingkap berbagai masalah, dan anda bisa bernasib sial.

Alih-alih melakukan transformasi dan digitalisasi dunia pendidikan Indonesia, justru mengantarnya jadi tersangka kasus korupsi, sebuah mosaik “jebakan” rezim kekuasaan negara yang jarang terjadi: meniti karir sebagai praktisi dan profesional yang menterang, kemudian tertarik bujukan dan bau wangi wilayah politik dan kekuasaan pemerintahan, dan berakhir di balik jeruji besi.

Pelajaran terpenting dari dunia politik kekuasaan, juga pada jabatan pemerintahan di level mana saja: jika merasa tak cukup punya latar pendidikan yang koheren dan minim pengalaman untuk bidang yang spesifik dan teknis, sebaiknya jangan membangun kepercayaan diri buta-buta. Bagi yang masih “belia”, karir anda bisa layu sebelum berkembang. Apalagi yang hanya punya “satu nyawa”, irama jantungmu terlalu mahal untuk sekedar membayangkan sisi lain kehidupan di balik jeruji besi.

Nadiem bisa dibilang salah satu talenta langka Indonesia, karena kompetensi dan spesifikasi keilmuamnya yang tak banyak. Sama dengan Ilham Habibie. Seorang teknokrat, pengusaha, dan insinyur pesawat terbang terkemuka di Indonesia. Punya latar pendidikan spesifik dan langka dari TUM, Jerman. Pernah berkarier di Boeing, IPTN, serta memimpin PT Regio Aviasi Industri. Ilham juga aktif di Kadin dan ICMI. Kini tertarik juga sisi “glamour” wilayah politik dan kekuasaan.

Ada juga beberapa kalangan profesional berwajah “polos”, yang bisa di bilang “serumpun” Nadiem dan Ilham, tertarik masuk kabinet Prabowo-Gibran saat ini. Rezim kekuasaan negara yang berbeda, mungkin bisa menunjuk arah karir mereka di jalan yang benar. Kita lihat nanti. Wallahua’lam(*)