Tandaseru — Di ujung utara Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, sebuah pulau mungil bak permata tersemat di bibir Pasifik.
Pulau Tabailenge, salah satu dari 33 pulau kecil yang mengelilingi Morotai, menyimpan pesona alam yang elegan, mulai dari hamparan pasir putih yang memukau hingga terumbu karang yang menanti di bawah laut. Namun, keindahan yang menjanjikan potensi wisata luar biasa ini kini berada di ambang kehancuran, terancam hilang ditelan ganasnya abrasi.
Saksi Bisu Kehilangan
Keresahan ini diungkapkan oleh Rinto, seorang tokoh pemuda Bere-bere yang setiap hari menjadi saksi bisu kondisi Pulau Tabailenge. Baginya, pulau ini bukan sekadar destinasi, melainkan ‘rumah’ yang harus dijaga. Rinto bahkan menyempatkan diri mendatangi pulau hampir setiap hari, memastikan kondisinya tetap baik dan jauh dari tangan-tangan jahil.
”Ini mulai di tahun 2000 Pulau ini masih terlihat alami nan indah, sebab Pulau ini masih memiliki ukuran dengan panjang dan lingkaran bulatan 2.100 sekian meter,” kenangnya saat ditemui di Pulau Tabailenge, Selasa (16/12/2025).
Sayangnya, pemandangan itu kian memudar. Rinto menuturkan, kondisi tepi pantai yang dulu dihiasi pasir putih dan pepohonan kini terus tergerus. Abrasi tak teratasi menghantam tanpa ampun, meninggalkan keprihatinan mendalam.

Perjuangan Melawan Abrasi
Kondisi memilukan ini mendorong Rinto dan pemuda Bere-bere lainnya untuk bertindak. Pada tahun 2003, mereka berinisiatif mendirikan komunitas Pecinta Alam Bere-Bere dan melakukan penanaman pohon secara masif sebagai upaya pertahanan diri pulau dari abrasi.
Namun, semangat dan upaya cemerlang para pemuda ini tak cukup tangguh melawan kekuatan alam. Gelombang pasang begitu ganas hingga memporak-porandakan bangunan setapak yang terbuat dari beton, bahkan menghilangkan jejaknya sekejap.
Data yang diungkapkan Rinto menunjukkan kemunduran yang sangat drastis. Tahun 2000: Panjang dan lingkaran bulatan pulau diperkirakan mencapai 2.100 sekian meter. Tahun 2014: Luas pulau menyusut drastis, tersisa 1.100 sekian meter. Tahun 2025: Ukuran Pulau Tabailenge hanya menyisakan panjang 400 lebih meter dan lebar 100 lebih meter.
”Ini disebabkan karena abrasi pantai terus terjadi, jadi pohon di tepi pantai sudah terkikis,” jelas Rinto, prihatin.
Ancaman Ekosistem dan Sejarah Kelam
Selain abrasi, Rinto juga menyinggung ‘sejarah kelam’ yang turut memperparah kerusakan. Ia menceritakan tindakan penebangan kayu yang terjadi di Tabailenge di masa lalu. Pohon-pohon lebat, termasuk jenis bintangor, yang menjadi tempat bernaung bagi satwa endemik kini banyak yang hilang.
Akibatnya, satwa liar seperti Burung Maleo dan Merpati Putih kehilangan habitatnya. Kerusakan ekosistem ini menambah daftar ancaman terhadap kelestarian Pulau Tabailenge.
Pulau ini, yang merupakan salah satu ‘Gerbang Pulau’ dalam sejarah Morotai, memerlukan perhatian segera dari Pemerintah Daerah hingga semua pihak terkait.
”Kami berharap supaya Pulau Tabailenge diselamatkan dari kerusakan ekosistem. Jika Pulau ini tidak diperhatikan, maka anak cucu yang akan datang hanya tinggal kenangan,” tutup Rinto, menegaskan harapan dan desakan agar permata Pasifik ini tidak benar-benar hilang ditelan ombak.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.