Oleh: Irfan Hi. Abd Rahman

Mahasiswa Pascasarjana (S3) Ilmu Lingkungan Unhas, Dosen Teknik Lingkungan Universitas Pasifik Morotai

_______

DI media sosial beredar video air terjun Nakamura Kabupaten Pulau Morotai mengering. Video yang dipublikasikan melalui akun facebook @Ulen Sabtu 29 November 2025 terlihat air terjun tidak lagi tampak sebagaimana biasanya, yang terlihat hanyalah bebatuan. Air terjun Nakamura Morotai adalah salah satu lanskap alam yang selama ini menjadi tempat wisata dan kebanggaan masyarakat Pulau Morotai. Dahulu terdengar suara gemericik air yang menghadirkan kesejukan dan keteduhan, alirannya merepresentasikan sistem ekologis yang sehat dan lestari. Namun beberapa waktu terakhir airnya mulai mengecil drastis bahkan terlihat mengering. Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar, bagaimana mungkin air terjun dapat menghilang sementara tampak terlihat pada hulu sungainya hutannya masih terlihat menghijau dan asri? Di lain sisi tahun 2025 ini, intensitas hujan ringan hingga lebat terus terjadi sebagaimana catatan BMKG untuk Maluku Utara pada bulan November 2025 menyebut wilayah Maluku Utara berpotensi hujan sedang hingga lebat termasuk di Morotai. Pada fase ini hujan akan intens terjadi menjelang “puncak” musim hujan lokal, artinya Morotai sedang dalam periode basah dan cenderung terus basah hingga memasuki bulan Desember sampai bulan Januari. Di sinilah letak persoalan ekologis yang cukup dalam. Secara visual kawasan hulu sungai Nakamura memang masih ditutupi vegetasi asri serta intensitas hujan masih sering terjadi. Namun tutupan hutan yang tampak hijau dan sering terjadi hujan tidak selalu berarti hutan itu masih berfungsi secara hidrologis. Di banyak kawasan hulu, daerah tropis sering mengalami degradasi yang tidak terlihat oleh mata yang dalam ilmu ekologi disebut sebagai degradasi senyap (silent degradation).

Kawasan hutan air terjun Nakamura Morotai mungkin masih ada, tetapi struktur hutan berubah. Pohon-pohon besar yang akarnya memiliki kemampuan menyimpan air telah berkurang. Digantikan oleh pepohonan relatif muda atau vegetasi cepat tumbuh dengan akar yang dangkal serta tidak mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Lapisan serasah yang tebal yang menjadi spons penyerap air mengalami penyusutan bahkan hilang akibat aktivitas manusia. Di jagat hulu terlihat hijau, tetapi hutan kehilangan fungsi ekologis penting menyimpan air sebagai cadangan baseflow yang memberi suplai kesestabilan kepada sungai dan air terjun. Sungai tidak hanya bergantung pada pepohonan, tetapi juga pada kemampuan tanah menyerap air. Banyak daerah resapan di sekitar hutan mengalami pemadatan tanah, akibat pembukaan lahan perkebunan, dengan sistem kebun berpindah serta pengambilan kayu yang tidak terkendali. Akibat pemadatan mengubah daerah resapan menjadi permukaan yang tidak lagi menyerap air secara optimal. Ketika hujan turun, air tidak meresap ke dalam tanah, tetapi langsung mengalir sebagai limpasan air permukaan. Inilah sebabnya sungai kadang banjir sesaat ketika hujan tetapi cepat mengering ketika kemarau tiba. Secara ilmiah, kondisi ini disebut runoff-dominated watershed, yaitu DAS tidak lagi mampu menyimpan air sebagai cadangan. Tan et al. (2020) menegaskan bahwa sensitivitas baseflow terhadap perubahan tutupan lahan terjadi sehingga di beberapa DAS terjadi penurunan aliran dasar yang kuat berpotensi menyebabkan segmen sungai atau air terjun menyusut saat musim kering.

Dengan kata lain, hutan terlihat tetap ada, tetapi tanah di bawahnya kehilangan kemampuan menjadi spons penyerab air. Air mengalir cepat lewat permukaan tanpa meninggalkan cadangan air bagi sungai di musim kering. debit air terjun dipasok oleh mata air. Sebab Mata air berada pada titik-titik tertentu sangat sensitif dengan lekukan lereng, retakan batuan, dan cekungan-cekungan kecil. Aktivitas dalam skala kecil sekalipun seperti pembukaan jalan perkebunan, pembersihan kebun atau lahan, pembukaan lahan pertanian baru atau pergeseran kontur tanah di kawasan tangkapan air sungai Nakamura Morotai dapat mengganggu aliran air bawah tanah menuju mata air atau kawasan air terjun. Mata air dapat hilang tanpa perubahan dramatis atau massif pada tampilan vegetasi di permukaan. Ketika muka air tanah turun akibat berkurangnya resapan, mata air tidak lagi mampu mengeluarkan air. Menurut Yohannes et al. (2024) menyebutkan ekspansi lahan terbangun dan pertanian intensif akan mengurangi kapasitas daerah tangkapan untuk menyimpan air dalam tanah, sehingga baseflow dan aliran minimum akan mengalami penurunan. Dalam kajian hidrologi kondisi ini disebut sebagai disconnected spring flow yaitu aliran mata air yang terputus. Akibatnya sungai tetap mengering meski tampak bahwa hutannya masih terlihat utuh.

Selain itu, secara eksternal perubahan iklim juga membuat musim kering lebih panjang dan curah hujan semakin tak menentu. Namun di wilayah dengan ekosistem hulu masih sehat, mata air akan tetap mengalir dengan stabil meski musim terus berubah atau lebih banyak panas dibanding hujan. Artinya, perubahan iklim adalah faktor penguat, bukan penyebab utama. Akar masalahnya tetap sama yaitu kerusakan sistem hidrologi hulu sungai yang tidak terlihat secara kasat mata. Pengeringan air terjun Nakamura Morotai bukan hanya hilangnya daya tarik wisata. Ia pertanda bahwa fondasi ekologis Morotai sedang mengalami pelemahan secara terus-menerus, apa lagi Morotai adalah pulau kecil tentu memiliki cadangan air tanah terbatas. Ketika daerah resapan rusak dan mata air melemah, krisis air bukan lagi isu masa depan tetapi ancaman nyata bagi Morotai dalam beberapa tahun ke depan. Jika pengelolaan ruang dan hulu sungai Nakamura tidak segera dibenahi, Morotai dapat menghadapi krisis air secara struktural yang akan mengganggu kehidupan masyarakat terutama bagi sektor pertanian, dan pariwisata.

Mengeringnya air terjun Nakamura harus menjadi momentum koreksi kebijakan. Setidaknya menurut saya terdapat empat langkah strategis yang perlu diprioritaskan pemerintah daerah Morotai bersama Pemerintah Provinsi Maluku Utara yang memiliki kewenangan penuh atas pengelolaan kawasan hutan di Morotai. Pertama, menetapkan hulu sungai Nakamura sebagai kawasan lindung berbasis DAS, disertai moratorium pembukaan lahan dan pengambilan kayu di kawasan sungai Nakamura. Kedua, melakukan reforestasi terarah pada titik-titik kritis yang berpengaruh langsung terhadap infiltrasi dan stabilitas mata air serta penghentian aktivitas apapun di kawasan hutan. Ketiga, melaksanakan audit lingkungan terhadap aktivitas penggunaan lahan kawasan sungai Nakamura secara komprehensif yang berpotensi dan memutus aliran hidrologi, terutama pembukaan kebun baru atau aktivitas masyarakat tidak terkontrol. Keempat, melakukan langkah strategis baik berupa kebijakan tentang tata guna lahan dan air, baik di hulu hingga daerah aliran sungai serta perlu penguatan pelaksanaan Pembangunan berkeseimbangan dengan menerapkan sistem informasi/geospasial data base kondisi kawasan hutan dan sungai di Morotai.

Sekali lagi bahwa mengeringnya air terjun Nakamura adalah alarm keras bagi kita semua, bahwa hulu dan DAS Sungai Morotai sedang sakit, meski hutan tampak hijau. Jika peringatan ini kita abaikan, atas nama pembangunan yang kini dikejar justru akan menghasilkan pulau yang indah secara visual tetapi boleh jadi kita miskin terhadap air. Kita tidak boleh memilih pembangunan yang mengorbankan fondasi ekologis yang menopang kehidupan masyarakat apapun alasannya. Melindungi hulu sungai dan DAS adalah melindungi masa depan Morotai. Jika kita menjaga air hari ini, kita menjaga kehidupan generasi yang akan datang. Mari kita berubah sebab Allah SWT berfirman “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka”.

Wallahu a’lam bish-shawab(*)