Oleh: Anwar Husen

Pemerhati Sosial/Tinggal di Tidore, Maluku Utara

________

Bagi orang yang mengetahui kadar dirinya, pujian berlebihan adalah penghinaan. Kebalikannya, yang tak paham kadar dirinya, pujian berlebihan adalah tiupan sepoi-sepoi mengasikkan dan meninabobokan

BEBERAPA pekan terakhir, saya membaca banyak berita seputar penghargaan yang diberikan oleh lembaga tertentu kepada banyak sosok yang dipandang punya prestasi dan keunggulan tertentu, yang pantas diberi award itu.

Macam-macam latar lembaganya, banyak bidangnya, dan beragam sosok atau tokoh yang menerimanya. Di cover majalah Tempo yang terkenal reputasinya itu, beberapa kepala daerah tampil gagah dan penuh percaya diri di sana. Tak jelas, statusnya advertorial atau bukan.

Di deretan award tadi, banyak juga sosok kepala daerah yang menerimanya, dengan macam-macam latar prestasinya, meski usia pemerintahan yang dipimpinnya belum genap setahun. Juga di tengah berbagai latar kesulitan yang menerpa daerah, mulai dari sosok atau figur baru yang minim pengalaman, hingga keterbatasan fiskal dan daya saing potensi daerah.

Karena fungsi award adalah sebagai pengakuan formal atas pencapaian atau kontribusi seseorang, sebagai bukti nyata atas prestasi tersebut, serta sebagai motivator untuk terus berupaya lebih baik, maka adalah sesuatu yang baik bila kita memberi apresiasi dan berharap ada sisi positifnya yang berkelanjutan.

Tetapi di negara ini, cukup banyak fakta yang tersaji betapa reputasi itu bisa dijual murah. Mau lihat nyata hal-hal begini menjamur, lihat di momentum Pemilihan Kepala Daerah [Pilkada]. Juga tentunya pemilihan presiden.

Sebuah lembaga survei opini publik, pernah diledek temuannya di Pilpres lalu, jika lembaga ini telah ada di zaman pra kemerdekaan maka Indonesia tak akan jadi merdeka di 17 Agustus 1945. Kemerdekaan negara ini masih tertunda entah kapan. Itu karena temuannya bahwa VOC, persekutuan dagang Belanda saat itu, sangat bermanfaat bagi ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Di sektor pemerintahan, juga tak tanggung-tanggung, lembaga sekelas Badan Pemeriksa Keuangan [BPK] pernah diterpa opini miring soal suap, predikat hasil pemeriksaannya bisa dipengaruhi uang.

Di tahun 2010, ketika belum setahun menjabat pimpinan OPD dibidang pendidikan di sebuah pemerintahan, datang undangan “misterius” itu. Berlabel “Anugerah Prestasi” dari sebuah lembaga di Jakarta. saya sempat bertanya dalam hati, kapan kiprah kami di amati, di nilai, dibandingkan, hingga dianggap berprestasi. Ada setoran nilai uang tertentu. Dan saya tak ambil pusing dengan semua yang semu itu, meski berulang dikonfirmasi. Tetapi ada juga rekan lain yang memajang sertifikat itu di ruang kerjanya. Itu urusannya.

Ada sisi lain Menteri Keuangan [Menkeu] Purbaya Yudhi Sadewa yang diungkap media Oposisicerdas kemarin [15/11]. Di balik kelakuan dan pernyataannya yang ceplas-ceplos bak koboi, Doktor bidang ekonomi jebolan Purdue University itu ternyata memiliki sikap yang tegas terhadap sejumlah hal. Ia menolak keras amalan ibadahnya dipamerkan di media sosial. Selain itu, dengan popularitasnya yang tinggi, ternyata Purbaya mengeluh ketika diseret ke dunia politik. Ternyata, sejak dilantik dan muncul ke publik 8 September 2025 lalu, dengan percaya dirinya yang tinggi, banyak tawaran politik menarik-nariknya. Bukannya mengambil kesempatan itu untuk karir politiknya, Purbaya justru risih. Partai Amanat Nasional sudah terang-terangan tertarik meminang Purbaya menjadi kadernya. Nama pengganti Sri Mulyani sebagai bendahara negara itu juga sudah masuk radar cawapres di 2029 mendatang versi sejumlah hasil survei.

Kerisihannya diseret-seret ke ranah politik disampaikan Purbaya ke Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun. Misbakhun pun membeberkannya saat bicara di gelar wicara bertajuk ‘DARI SRI MULYANI KE PURBAYA. KEMANA ARAH EKONOMI KITA?’ di Youtube @AkbarFaizalUncensored, tayang perdana Kamis [6/11/2025].

“Saya beberapa kali sudah ketemu sama Pak Purbaya. Saya sampaikan Pak Purbaya itu berkeluh kesah karena dia ditarik ke terlalu dalam ke politik, dicalonkan ini dicalonkan itu. Dia ditarik-tarik ke urusan itu. Dia sudah ketemu sama saya ngomong soal itu, dan dia berkuluh kesah soal itu,” kata Misbakhun. Purbaya memarahi ajudannya, amalan ibadahnya dipamerkan. Ini terkait videonya sedang mengaji di dalam mobil yang viral di media sosial.

Di era yang cenderung manipulatif seperti saat ini, batas antara originalitas dan kamuflase, memang makin sulit di kenali. Banyak pejabat publik punya Tim Media, meski ada yang cuma menonjolkan “cover“. Ada pula yang bekerja dalam senyap tapi hasilnya membanggakan. Tetapi dengan rasionalitas dan kadar kepekaan tertentu, originalitas ataupun sikap manipulatif itu dengan mudah bisa dikenali dan didefinisikan. Tetapi pada akhirnya dengan penuh penghayatan dan kesadaran batin, kita akan bertanya dengan perasaan jijik, apalah artinya prilaku manipulatif yang bernilai semu itu. Charlie Chaplin mendeskripsikan sikap manipulatif itu: Saya pernah menyamar dan ikut dalam Lomba “Paling Mirip Charlie Chaplin”, dan mendapatkan peringkat kedua. Sementara peringkat pertama jatuh pada anak dari Ketua Panitia Lomba.

Ada sebuah flyer sinisme yang saya suka, besi tidak menjadi tajam dengan dipuji. Tapi ditempa, dipukul dan diuji.

Bagi orang yang mengetahui kadar dirinya, pujian berlebihan adalah penghinaan. Kebalikannya, yang tak paham kadar dirinya, pujian berlebihan adalah tiupan sepoi-sepoi mengasikkan dan meninabobokan.

Ada perilaku iseng di media sosial khususnya kaum hawa, mengedit wajah hingga terlihat “super glowing”. Tetapi justru dari sinilah sinisme keren itu muncul: Boleh mengeditnya tapi jangan terlalu putih. Ingat, kita bertetangga.

Bagi pejabat publik, kepala daerah misalnya, kiprah yang tersosialisasi itu juga penting. Berkiprah dengan segala bentuk pernak-pernik prestasi dan keunggulan, kebanggaan, hingga banjir pujian di berbagai media. Apapun level dan reputasinya. Tetapi penting untuk dibedakan mana originalitas dan mana manipulatif. Karena hakikat manipulatif itu adalah menipu. Jangan menyia-nyiakan ketulusan warga pemilih yang telah memilih kita, dengan menipu mereka. Lagi pula yang harus selalu diingat, di jagat media sosial, sebagian orang hanya bisa “membayangkan” kiprah kita, tetapi di daerah, warga kita dengan mudah bisa “mengenali”. Dan buah dari kiprah itu dirasakan, bukan dibayangkan.

Boleh mengeditnya tapi jangan terlalu putih. Ingat, “kita bertetangga”. Wallahua’lam. (*)