Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
________
“Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!”
(Al Imam Al Ghazali, Ulama, wafat, 1111 M)
MENULIS bukan sekadar kegiatan menuangkan kata ke dalam kertas atau layar ponsel. Menulis merupakan bentuk dakwah, suatu proses menyampaikan kebenaran dan kebajikan melalui bahasa yang hidup dan bernas. Dalam konteks Islam, dakwah tidak hanya dilakukan dengan lisan, tetapi juga dengan tulisan yang menggugah, mencerahkan, dan mengubah perilaku. Karena itu, ungkapan “menulis adalah berdakwah” mengandung makna spiritual yang dalam: bahwa pena menjadi lidah yang berbicara bagi kebenaran, dan tulisan menjadi amal jariyah yang abadi.
***
Dalam sejarah Islam, para ulama besar tidak hanya dikenal karena kemampuan mereka berdakwah di mimbar, tetapi juga karena karya tulis mereka yang melintasi zaman. Imam Al-Ghazali, misalnya, melalui Ihya’ Ulumuddin menanamkan nilai-nilai spiritual yang tetap relevan hingga hari ini. Ia menulis bahwa “pena para ulama lebih tajam dari pedang para pejuang” (Al-Ghazali, 1995: 12). Kalimat ini menegaskan kekuatan tulisan dalam mengubah peradaban manusia.
Menulis, dalam konteks dakwah, bukan hanya menyampaikan nasihat, tetapi juga melakukan transformasi kesadaran. Menulis merupakan proses menghadirkan nilai Islam dalam ruang sosial yang plural. Dalam konteks modern, tulisan-tulisan yang memuat nilai moral, keadilan sosial, dan empati terhadap sesama merupakan bagian dari dakwah kultural, yakni dakwah yang beradaptasi dengan bahasa dan konteks masyarakat.
Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an, menulis, dakwah yang efektif adalah yang “mampu menyentuh hati manusia tanpa menghakimi, dan menuntun tanpa memaksa” (Shihab, 2007: 45).
Tulisan, dengan kekuatan reflektifnya, menjadi medium paling lembut untuk menyentuh hati pembaca. Di sinilah menulis menjadi dakwah yang penuh hikmah (bi al-hikmah), sebagaimana diajarkan dalam QS. An-Nahl [16]:125, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
Menulis bukan pekerjaan duniawi semata; ia juga bagian dari amal yang berkelanjutan. Dalam hadis Nabi SAW disebutkan, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh” (HR. Muslim, No. 1631).
Tulisan yang membawa manfaat merupakan bagian dari “ilmu yang bermanfaat”, karena ia terus memberi cahaya meskipun penulisnya telah tiada.
Para ulama klasik memahami betul dimensi ini. Ibnu Khaldun, melalui karya magnum opusnya, Muqaddimah, menulis sejarah dan teori sosial yang tidak hanya menjelaskan dunia, tetapi juga mengajarkan moralitas dan tanggung jawab manusia terhadap sesama (Khaldun, 2005: 27). Karya tersebut merupakan bentuk dakwah intelektual: memperluas pandangan manusia tentang kehidupan dengan dasar tauhid.
Dalam era digital, bentuk amal jariyah melalui tulisan bahkan semakin luas. Tulisan-tulisan di media sosial, blog, dan platform akademik menjadi ladang dakwah baru. Menurut Buya Hamka dalam bukunya Lembaga Hidup, menulis, “tulisan yang jujur lahir dari hati yang bersih, dan tulisan yang demikian akan menemukan jalannya ke hati orang lain” (Hamka, 1984: 76). Ini berarti, keikhlasan merupakan inti dari menulis sebagai dakwah.
Dakwah melalui tulisan di era digital memerlukan kebijaksanaan dalam penggunaan bahasa dan media. Banyak orang hari ini membaca lebih banyak di layar ponsel ketimbang di buku. Karena itu, menulis di media digital berarti juga berdakwah di ruang publik yang lebih luas, dengan tantangan dan tanggung jawab yang besar.
***
Penulis di era digital harus menyadari bahwa setiap kata yang ia tulis akan terekam, dibaca, dan mungkin menginspirasi atau menyesatkan. Karenanya, dakwah melalui tulisan digital menuntut etika baru : literasi spiritual dan sosial. Sebagaimana pernah dikatakan Nurcholish Madjid dalam Islam, Doktrin, dan Peradaban, menyebutkan, bahwa “dakwah sejati bukan memaksa orang lain menjadi seperti kita, tetapi menumbuhkan kesadaran untuk mencari kebenaran bersama” (Madjid, 1999: 54).
Tulisan-tulisan yang mempromosikan empati, keadilan sosial, dan tanggung jawab ekologis, misalnya, juga termasuk dakwah. Ketika seorang penulis menulis tentang pentingnya menjaga alam, menghindari korupsi, atau menegakkan keadilan, ia sejatinya sedang berdakwah dengan bahasa universal, bahasa kemanusiaan.
Menulis bukan hanya sarana menyampaikan pesan, tetapi juga sarana untuk memperbaiki diri. Dalam setiap proses menulis, seorang penulis sesungguhnya sedang berdialog dengan dirinya sendiri, dengan nurani dan Tuhannya. Seperti diungkapkan Pramoedya Ananta Toer (Toer, 1980: 9), “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah.”
Dalam konteks dakwah, menulis merupakan cara agar kebaikan tidak hilang dari sejarah manusia.
Akhirnya, tulisan yang lahir dari refleksi spiritual dapat menjadi cermin bagi masyarakat. Di sini, menulis menjadi bagian dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Seorang penulis dakwah sejati tidak menulis untuk kemuliaan pribadi, melainkan untuk menebar hikmah. Ia sadar bahwa setiap kalimat yang ditulis merupakan saksi atas niatnya, apakah ia menulis untuk Allah SWT atau sekadar untuk pujian manusia.
Pena dan kata-kata merupakan alat dakwah yang sunyi, namun abadi. Ia tidak berteriak, tapi menggema dalam jiwa pembacanya. Allah SWT sendiri memuliakan aktivitas menulis dalam firman-Nya: “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis” (QS. Al-Qalam [68]:1). Ayat ini menegaskan bahwa menulis merupakan bagian dari ibadah, karena ia menjadi sarana penyebaran ilmu dan kebenaran.
Maka, “menulis adalah berdakwah” bukan sekadar slogan, tetapi komitmen spiritual untuk menghadirkan kebaikan dalam kata. Setiap kalimat yang ditulis dengan niat yang lurus merupakan cahaya dakwah yang menyinari zaman. Dalam dunia yang penuh kebisingan informasi, tulisan yang jernih, jujur, dan mencerahkan akan menjadi oase bagi pencari kebenaran.
Sebagaimana kata pepatah Arab, “Ucapan akan hilang, tetapi tulisan akan abadi.” Maka, siapa pun yang menulis dengan niat berdakwah, sejatinya sedang menanam pohon amal di taman keabadian.
Sebagai akhir, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mengatakan: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.