Oleh: Safira Abd Gani

Mahasiswa Psikologi Fisip UMMU dan Pegiat PILAS Institute

_______

PAGI itu, seorang perempuan dengan langkah kecil penuh kesibukan sedang berkelahi dengan piring kotor bekas makan malam. Dentingan piring yang saling beraduh menjadi melodi pagi itu. Seolah menyambut datangnya pagi, saat insan lain masih sibuk dengan alam mimpi. Langkah kecil itu kemudian beralih posisi ke arah meja dapur, perhatiannya tertuju pada sayur-sayuran yang tergeletak layu di atas meja menunggu disentuh, ia memotong sayuran itu dengan lihai menyatukan sayuran beserta rempah-rempah itu kedalam panci yang dipeluk panas api kompor. Tangan berayun lembut, seolah sedang menari bersama aroma pagi. Aroma semerbak rempah menyelimuti dapur kecil itu, telah menjadi bagian dari keseharian. Menyentuh lembut indera penciuman. Tapi apakah wangi itu juga menyentuh lembut mereka yang masih tertidur lelap di bawah atap yang sama?

Pagi menjadi arena tempat perempuan berkelahi dengan dapur, sebelum dunia luar menuntut peran lain. Kali ini, ada keramaian di dapur, keramaian yang entah untuk siapa kebisingan yang tak pernah benar-benar menyapanya. Sendok dan garpu menari di atas piring, diiringi percakapan datar yang mengisi udara. Keberadaan tak benar-benar diperhatikan, seolah dirinya lenyap di balik aroma masakan dan riuh pagi itu. Tak ada yang bertanya apakah ia lelah, atau sekadar butuh jeda, bahkan uluran tangan. Perhatian kecil yang tampak sederhana terkadang terasa begitu langka. Tak semua mengerti, tak semua mau terlibat, seolah-olah semua baik-baik saja. Dapur itu sebentar lagi akan ditinggal sunyi, dan ia seperti biasa, akan merawat seorang diri.

Sejak dulu, dapur diwariskan turun-temurun kepada perempuan, seolah pekerjaan itu mutlak menjadi tanggung jawab mereka. Seolah dapur memang diciptakan dan dibangun hanya untuk perempuan, untuk diisi oleh perempuan. Sejak kecil, mereka diajarkan untuk melayani bukan dilayani bahkan terhadap diri mereka sendiri. Contohnya: “biarkan mereka makan terlebih dahulu, nanti kita menyusul,’’ kata ibu. Kalimat sederhana itu seperti menetapkan peran tanpa ruang untuk digugat. Rumah yang katanya tempat beristirahat, justru menjadi ruang kerja nyata bagi perempuan. Menyiapkan makanan hanyalah salah satu contoh, setelah hidangan tersaji rapi, barulah mereka dipanggil untuk makan. Ironisnya, setelah selesai makan mereka masih enggan untuk membersihkan piring bekas makan sendiri. Mungkin diam bukan karena sabar, tetapi karena telah tenggelam dalam keyakinan bahwa pekerjaan domestik adalah kewajiban perempuan. “Sebab di mata sebagian orang, bicara tentang dapur masih berarti bicara tentang tentang perempuan”.

Zaman di mana kebebasan berekspresi menjadi hak setiap orang, ini adalah kesempatan untuk perempuan mengekspresikan dirinya, mulai dari memilih dimana dia bersekolah sampai pekerjaan apa yang akan ia tempati. Perempuan bukan hanya berpengaruh dan lihai di dapur, mereka juga bisa menguasai bidang pekerjaan yang mereka inginkan seperti, Clara Zetkin (1857-1933), yang membuat gerakan sosial, sehingga dikenal sebagai penggagas Hari Perempuan Internasional dan sebagai aktivis yang menekankan pentingya kesetaraan gender dalam konteks perjuangan kelas pekerja. Adapun tokoh perempuan Indonesia; R.A. Kartini (1911) menegaskan bahwa Perempuan tidak seharusnya hanya “Seperti bunga di taman yang indah dipandang tetapi tidak berguna bagi siapapun.’’ Melalui pandangannya itu, Kartini menentang budaya patriarki pada zamannya dan menuntut agar perempuan diberi kesempatan untuk maju melalui pendidikan dan kerja. Atau yang masih hidup hingga saat ini misalnya, Najwa Shihab yang bisa meniti kariernya sebagai seorang jurnalistik dan seorang ibu rumah tangga. Dengan ini perempuan juga bisa mengambil peran di luar dari aktivitas dapur, bahkan menyeimbangkan peran antara ibu rumah tangga, dan kariernya.

“Perempuan harus bisa memasak” (Megawati Soekarno Putri). Saya setuju perempuan harus bisa masak tetapi laki-laki juga harus bisa mengambil peran itu, karena memasak itu bukan kodrat perempuan, memasak itu skill kehidupan yang harus dimiliki gender laki-laki maupun perempuan, kodrat perempuan itu melahirkan, menstruasi, kemudian juga menyusui, di luar hal-hal itu bisa dilakukan laki-laki dan perempuan (Najwa Shihab. Pkkmb2022).

Seperti yang dikemukakan oleh Andestend (aliran feminism sosial, 2020), mengapa ketidakadilan terhadap perempuan disebabkan oleh konstruksi sosial yang didukung oleh sistem kapitalisme dan patriarki. Feminisme sosial berupaya menghapus kedua sistem tersebut demi mencapai kesejahteraan dan kemandirian perempuan.

Sebab dapur bukan milik siapa-pun, ia hanyalah ruang yang butuh diisi. Berada di dapur seharusnya bukan karena keterpaksaan atau kekosongan, melainkan karena pilihan. Dapur harus menjadi ruang yang romantis, tempat berbagi suka dan duka, tempat bercerita, bahkan tempat tertawa riang. Bukan ruang yang hanya diisi oleh tubuh tanpa perhatian. Fungsi dapur lebih dari sekadar memasak dan mencuci piring. Ia adalah ruang kehidupan yang menghubungkan jiwa, emosi, dan raga. Sebab ketika seorang laki-laki mau mencuci piring, memotong sayuran, atau menyiapkan makanan, itu bukan tanda harga dirinya turun. Justru di situlah harkatnya naik, karena ia mengerti arti berbagi.

Dapur tak pernah memilih siapa yang pantas berada di dalamnya. Mungkin, kitalah yang terlalu lama menaruh label antara perempuan dan dapur. Padahal, tak ada kepemilikan atas dapur. Ruang itu seharusnya diisi oleh kebersamaan, empati, dan rasa tanggung jawab. Sebab dapur adalah ruang yg diisi oleh manusia bukan “jenis kelamin”. (*)