Oleh: Arafik A Rahman
Penulis Buku
___________
DISIPLIN sejati bukanlah rantai yang mengikat tubuh, melainkan cahaya yang menuntun jiwa. Di sebuah kampung ada cerita tentang seorang anak yang setiap pagi dipukul ibunya hanya agar cepat mandi. Ia rajin ke sumur bukan karena mencintai kebersihan, tetapi karena takut disabet sapu lidi. Bertahun-tahun kemudian, anak itu tumbuh, kuliah, lalu bekerja. Kebiasaannya masih sama: ia hanya rajin ketika ada yang mengawasi, ketika ada yang menakut-nakuti.
Disiplin yang dibangun di atas ketakutan akan selalu berumur pendek. Di banyak ruang kehidupan sosial, logika yang sama masih dipelihara. Kita kerap menjadikan ancaman sebagai fondasi rajin, bukan kesadaran. Padahal, jika rajin tumbuh dari ketakutan, ia akan rapuh, seperti bangunan bambu yang diguyur hujan deras, tegak sebentar, lalu runtuh perlahan.
Abraham Maslow, psikolog humanistik yang terkenal 1943: manusia bertindak bukan hanya karena takut atau lapar, melainkan juga karena dorongan untuk bermakna. Jika rajin hanya lahir dari rasa takut dimarahi, maka rajin itu hanyalah topeng. Begitu suara marah mereda, topeng itu dilepas dan wajah asli muncul kembali. Maslow menegaskan bahwa kebutuhan akan aktualisasi diri jauh lebih kuat daripada sekadar kebutuhan akan rasa aman; artinya, tanpa kesadaran, rajin akan selalu bersifat sementara.
Selaras dengan John C. Maxwell, pakar kepemimpinan, dengan kalimat yang tajam: “Orang-orang tidak akan mengikuti alasanmu, kecuali alasan itu hidup di hati mereka.” Rajin yang dipaksakan hanyalah drama panggung. Lampu sorot padam, layar ditutup dan pemain pun kembali ke belakang panggung. Rajin yang lahir dari kesadaran, sebaliknya, tetap bertahan bahkan ketika panggung sepi. Inilah inti kepemimpinan: menyalakan alasan di hati, bukan menempelkan cambuk di punggung.
Sebuah satire kehidupan: seorang sahabat di sebuah kos-kosan: “ia bangun pagi bukan karena takut dimarahi boss, tetapi karena takut ayam berkokok lebih dulu.” mungkin ini terdengar lucu tetapi ada kebenaran di baliknya. Rajin yang sejati memang tidak memerlukan tekanan. Ia muncul dari irama alam, dari kesadaran yang bersifat otonom. Rajin yang otentik justru hadir ketika tidak ada yang melihat. Budaya menakut-nakuti hanya akan menghasilkan generasi pelari: rajin di depan mata, malas di belakang layar.
Sebaliknya, budaya kesadaran melahirkan generasi pelopor: rajin bahkan ketika sepi, ketika tidak ada juri yang menilai, tidak ada kamera yang mengintai. Di sinilah letak perbedaan antara rajin yang semu dan rajin yang sejati: yang pertama butuh penonton, yang kedua butuh nurani. Dalam diskusi kepemimpinan modern, gaya persuasif lebih dianggap berkelanjutan dibanding gaya otoriter. Bayangkan dua orang bekerja keras: yang satu karena dicambuk, yang lain karena tahu hasil kerjanya berguna. Yang pertama cepat letih, yang kedua justru makin kuat.
Gaya kepemimpinan yang hanya berisi ancaman ibarat memaksa pohon tumbuh dengan menancapkan paku di batangnya: pohon itu akan patah sebelum waktunya.
Kita sering mendengar keluhan, “Kenapa orang harus diancam dulu baru mau jalan?” Jawaban sederhananya: karena mereka belum diajak memahami makna. Frasa ini menggigit: banyak orang lebih takut absen di daftar daripada absen dalam nurani. Ketika catatan hadir lebih penting daripada kehadiran hati, disiplin telah berubah menjadi komedi tragis.
Disiplin sejati adalah seni mengubah rajin menjadi kegembiraan. Tidak ada rasa takut dihukum, yang ada hanyalah rasa malu bila tak ikut menyumbang kebaikan. Seorang petani pernah berkata dengan polos, “Saya ke kebun bukan karena takut dimarahi istri tapi karena buah kelapa tidak menunggu untuk panen.” Kalimat sederhana ini justru lebih jernih daripada ratusan halaman teori manajemen: kesadaranlah yang menumbuhkan rajin.
Cerita tentang rajin karena takut sanksi kadang memang membuat kita tertawa. Ada orang yang duduk manis di depan buku bukan karena belajar, melainkan karena ibunya berdiri di pintu. Begitu pintu ditutup, buku itu berubah menjadi bantal. Kita mengenal wajah-wajah rajin seperti ini di mana-mana: rajin yang hanya berlangsung selama “penjaga pintu” masih ada.
Di sinilah jebakan disiplin semu: lahir dari rasa takut, mati bersama hilangnya pengawas.
Dalam masyarakat modern, kita tentu tak bisa menaruh polisi di setiap sudut kamar tidur hanya agar orang belajar. Maka, pencerahan menjadi kebutuhan mendesak. Rajin tidak bisa lagi dipelihara dengan cambuk, melainkan harus ditumbuhkan melalui pengertian, kebersamaan, dan makna. Rajin karena kesadaran jauh lebih elegan daripada rajin karena diintip kamera. Kamera bisa dimanipulasi, peraturan bisa ditipu, tetapi kesadaran tak bisa didustai.
Itulah sebabnya banyak pemikir menegaskan bahwa disiplin adalah buah kebudayaan, bukan sekadar produk peraturan. Hanya budaya yang mampu membuat rajin menjadi kebiasaan yang terus bersemi. Satire yang paling pahit adalah ketika rajin hanya bertahan selama lomba berlangsung. Begitu juri pulang, semua kembali acak-acakan. Rajin yang musiman ini ibarat hujan dadakan: menyuburkan sebentar, lalu meninggalkan kekeringan yang panjang.
Seakan-akan kita hanya mencintai rajin demi piala, bukan demi makna. Jika budaya ini terus dipelihara, rajin akan selalu bersifat temporer. Ada yang rajin di bulan Ramadhan, lalu kembali santai setelah lebaran. Ada yang rajin di awal tahun, lalu lesu ketika pertengahan tiba. Disiplin pun berubah menjadi kostum yang bisa dilepas, bukan kulit yang melekat. Kita sibuk berganti pakaian rajin, tetapi lupa menjahitnya di dalam diri.
Dalam konsep God government: tata kehidupan yang ditopang nurani spiritual, disiplin tak mungkin ditegakkan di atas budaya ketakutan. Ia berdiri di atas keyakinan bahwa rajin adalah bentuk syukur, bukan bentuk takut. Rajin adalah ibadah kecil yang menyatukan manusia dengan Tuhannya. Jika rajin lahir dari cambuk, ia berhenti di permukaan. Jika lahir dari syukur, ia menembus ke dalam jiwa.
Contoh kepemimpinan yang baik telah hadir dalam kisah Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak memerintah dengan suara keras, melainkan hadir menyamar di malam hari, menengok rakyat yang lapar. Rajin bekerja baginya bukan hasil cambuk, tetapi buah dari teladan. Orang lain ikut rajin bukan karena diperintah, melainkan karena malu jika tak mengikuti teladan yang begitu nyata. Kepemimpinan Umar adalah kepemimpinan yang menyinari, bukan menakut-nakuti.
Begitu pula Gandhi, yang memimpin gerakan Satyagraha bukan dengan cambuk, melainkan dengan teladan hidup sederhana. Ia menenun pakaian sendiri, berjalan bersama rakyat, menolak kenyamanan yang berlebihan. Disiplin lahir bukan dari ketakutan, melainkan dari rasa hormat. Orang merasa terhormat menirunya, bukan terpaksa mengikutinya. Gandhi menunjukkan bahwa rajin bisa tumbuh dari rasa cinta, bukan dari rasa takut.
Dari dua teladan itu, kita belajar bahwa rajin tanpa paksaan hanya lahir dari kepemimpinan yang menyalakan obor keteladanan. Pemimpin yang ikut turun tangan, yang menyalakan api semangat dari dirinya sendiri, akan menumbuhkan rajin sebagai kesadaran kolektif. Tidak perlu pengawas, tidak perlu ancaman; cukup dengan contoh nyata, orang lain pun ikut terbakar semangatnya.
Jadi, rajin hanya bisa tumbuh melalui tiga jalan. Pertama, teladan yang nyata dari mereka yang memimpin dan menginspirasi. Kedua, pencerahan yang berulang, yang menanamkan makna rajin sebagai kebutuhan bersama. Ketiga, penghargaan yang tulus, yang membuat orang merasa dihargai ketika ia rajin.
Dengan tiga jalan itu, cambuk tak lagi relevan, ancaman tak lagi diperlukan. Rajin pun akan lahir sebagai budaya yang hidup, bukan drama musiman. Disiplin sejati, pada akhirnya, bukanlah ketakutan yang mengekang, tetapi kegembiraan yang memerdekakan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.