Tandaseru — AFM, istri AH alias Hanafi, tersangka pembunuhan pegawai Badan Pusat Statistika (BPS) Halmahera Timur, Maluku Utara, Karya Listyanti Pertiwi alias Tiwi (30 tahun), akhirnya angkat bicara soal pembunuhan mengerikan yang melibatkan suaminya. Pernyataan AFM ini diungkapkan dalam konferensi pers yang digelar di kota Ternate, Rabu (13/8/2025). Mengenakan masker, AFM didampingi sejumlah penasehat hukum.
Tiwi, AFM, dan AH sama-sama berstatus pegawai BPS Haltim. Tiwi dan AFM juga merupakan rekan serumah dinas.
Penasehat hukum AFM, Rusdi Bachmid, dalam konferensi pers itu menyatakan, kliennya dan pelaku AH berada di kota Ternate pada 9 Juli 2025 setelah mengajukan cuti nikah pada 8 Juli. Hari itulah terakhir kali AFM bertemu Tiwi dalam keadaan hidup.
“Setelah itu saksi (AFM) dan korban tidak pernah berkomunikasi lagi sampai tanggal 17 Juli korban sempat menelepon saksi namun tidak sempat diangkat saksi karena sedang sibuk mengurusi pernikahan,” ungkap Rusdi.
Komunikasi antara AFM dan Tiwi baru kembali terjadi pada 24 Juli 2025 saat AFM mengirimkan undangan pernikahan fisik ke Haltim lewat mobil lintas.
“Saat itu saksi chat ke korban untuk minta tolong dicek mobil lintasnya, tapi chat itu tidak dibalas meski pesannya centang dua,” kata Rusdi.
Sementara itu, sejak tanggal 9 Juli hingga 15 Juli AFM dan AH intensif bertemu dan berkomunikasi untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Namun Rusdi menegaskan, keduanya tidak tinggal serumah di Ternate.
“Saksi tinggal di rumah orangtuanya di Ternate Selatan, sedangkan pelaku tinggal di Ternate Tengah,” ujarnya.
Pada 15 Juli, AFM dan AH masih bertemu untuk urusan persiapan pernikahan. Saat itu keduanya berjanji akan bertemu lagi esoknya untuk melanjutkan mengurus pernikahan. Namun pada 16 Juli AH tidak datang menemui AFM.
“Di-WA, ditelepon, ternyata tidak pernah datang. Singkat cerita, pelaku ini mengirim foto bahwa pelaku kecelakaan. Jadi pada saat itu foto dalam kondisi luka, yang mana posisi pelaku berada di atas tempat tidur semacam rumah sakit. Ketika saksi memeriksa foto dengan cara men-zoom, menemukan struktur puskesmas yang mana itu menunjukkan Puskesmas Mabapura,” tuturnya.
“Dari situ baru saksi mengetahui bahwa pelaku ada di Mabapura. Saksi tanya ‘kenapa kamu ada di Mabapura? Kenapa tidak kasih tahu/ Harusnya tanggal 16 ini masih ada agenda yang harus kita persiapkan’. Kemudian pelaku menyatakan kepada saksi bahwa pelaku ingin ke rumah dinas pelaku yang berada di Maba untuk mengambil dokumen pelaku,” sambung Rusdi.
AFM, kata Rusdi, sempat menyatakan dokumen itu tidak terlalu penting. Namun pelaku ngotot tetap ke Maba dan mendatangi rumah dinasnya yamg berada satu lingkungan dengan rumah dinas AFM dan Tiwi.
“Mulai tanggal 16, 17, 18, hingga 19 komunikasi itu terjalin terus antara saksi dengan pelaku. Saksi selalu minta pelaku pulang ke Ternate, tapi pelaku tidak kembali juga. Tapi tanggal 17, 18, 19, saksi tidak mengetahui posisi pelaku apakah ada di Buli, Mabapura, atau Maba,” paparnya.
Pada 20 Juli pelaku AH baru kembali ke Ternate, bertepatan dengan kedatangan orangtuanya dari Jakarta untuk menghadiri pernikahannya. AFM dan AH sempat menjemput orangtua AH dan mengantarkan ke tempat tinggal.
AFM dan AH lantas melangsungkan pesta pernikahan yang meriah pada 27 Juli 2025. AFM mengaku belum melihat gelagat mencurigakan dari suaminya. Namun sejak kembali dari Maba pada 20 Juli itu, AH diakuinya kerap menangis meminta dirukiah karena telah melakukan hal buruk.
“Namun pelaku hanya mengatakan hal buruk itu adalah terlibat judi online, dan dia sudah merugi Rp 100 juta lebih gara-gara judi online. Pelaku khawatir keluarga saksi tidak menyukainya karena itu,” kata Rusdi.
Pada 31 Juli 2025, AFM mendapat kabar temuan jasad Tiwi dari grup WhatsApp kantornya. Kala itu, AFM langsung syok lantaran Tiwi merupakan rekan serumahnya.
Jasad Tiwi lalu dibawa dari Haltim ke Ternate pada 1 Agustus. AFM dan AH yang telah berstatus suaminya turut menjemput kedatangan jenazah Tiwi di pelabuhan, mengiringinya ke RSUD Chasan Boesoirie, bahkan ikut mengantarkan ke Bandara Babullah untuk diterbangkan ke kampung halaman Tiwi di Magelang.
“Nah, saat di rumah sakit, saksi mendapat informasi dari pegawai BPS lain bahwa jasad korban ini tinggal tengkorak, sehingga diperkirakan sudah meninggal 10 hari lebih. Begitu pulang ke rumah, saat itu pelaku sedang salat Jumat, saksi lalu membahas peristiwa itu dengan orangtuanya. Saksi bilang, jika kematian korban sudah 10 hari lalu, maka saat itu pelaku sedang berada di Maba,” beber Rusdi.
Sepulangnya AH dari salat Jumat, AFM dan orangtuanya menanyakan kepada AH apakah ia mengetahui informasi apapun soal peristiwa yang menimpa Tiwi. Namun AH berulang kali mengelak dan mengaku tidak tahu apa-apa. Ia juga menyangkal telah menghabisi nyawa Tiwi.
“‘Buat apa? Saya juga punya uang.’ Itu kata pelaku sambil menunjukkan uangnya di rekening sekitar Rp 50 juta yang diakuinya sebagai sisa kredit karena pada 4 Juli ia mengajukan kredit,” imbuh Rusdi.
Setelah berhari-hari mengelak dari pertanyaan istri dan mertuanya, AH harus kembali ke Haltim pada 3 Agustus 2025 lantaran masa cutinya telah berakhir. AFM belum kembali ke Haltim sebab rumah dinasnya masih diberi garis polisi usai menjadi lokasi pembunuhan Tiwi.
AFM dan ibunya lantas mengantarkan AH hingga ke Pelabuhan Sofifi dan memastikan ia naik mobil lintas ke Haltim. Pasalnya, saat itu AH kerap menangis dan berhalusinasi bertemu arwah.
“Tapi ternyata sopir lintas mengabari saksi bahwa pelaku tidak sampai ke Maba. Ia minta diturunkan di Ekor, entah apa alasannya. Saksi sempat berkomunikasi dengan pelaku menanyakan kenapa ia tidak ke Maba. Setelah itu tidak ada komunikasi lagi,” terang Rusdi.
Lalu pada 4 Agustus 2025, AFM mendapat kabar bahwa suaminya telah menyerahkan diri ke polisi dan mengaku sebagai pembunuh Tiwi. AFM langsung syok berat, sebab orang yang membunuh rekannya selama ini adalah orang yang hidup bersamanya.
“Jadi pelaku awalnya menghubungi mantan Kepala BPS Haltim meminta ditemani ke kantor polisi untuk memberikan informasi soal kematian korban. Nah istri mantan Kepala BPS ini yang mengabarkan kepada saksi bahwa pelaku akhirnya menyerahkan diri,” ungkap Rusdi.
AFM dan AH mulai berkenalan sejak September 2023 saat AH dipindahtugaskan ke BPS Haltim. Selama mengenal hingga akhirnya menikah, AFM mengaku AH tak pernah menunjukkan gelagat kasar. Keterlibatan AH dengan dunia judol pun baru diketahuinya pada 20 Juli usai AH membuat pengakuan.
“Soal status pernikahan saksi dengan pelaku sejauh ini belum dipikirkan saksi. Saksi masih fokus dengan peristiwa hukum ini,” tutur Rusdi.
AFM juga mengaku tak mengetahui soal AH mencoba meminjam uang Rp 30 juta dari korban.
“Saksi baru tahu dari berita setelah polisi memberikan informasi,” ujar Rusdi.
Hingga kini, AFM belum bisa berkantor kembali. Kondisi mentalnya diakui PH-nya belum stabil, sebab bagaimana pun korban merupakan teman serumahnya dan pelaku adalah suaminya.
“Kami juga minta perlindungan di UPTD PPA, dan saksi dalam waktu dekat akan menjalani asesmen untuk mengetahui kondisi psikis saksi. Hasil asesmen akan kita gunakan untuk meminta pertimbangan SDM BPS soal pekerjaan saksi,” ucap Rusdi.
Rusdi pun meminta publik mempercayakan proses hukum kepada polisi.
“Marilah kita sama-sama percaya pada polisi untuk menyelesaikan kasus ini. Jangan membangun spekulasi dan opini soal saksi, karena hasil pemeriksaan maupun bukti tidak menunjukkan keterlibatan saksi dan peristiwa pembunuhan itu,” pungkasnya.
AFM sendiri tampak berusaha menahan airmatanya saat ditanyakan awak media soal kepribadian Tiwi di matanya.
“Tiwi suka sama anak kecil. Suka nyanyi-nyanyi sendiri, mungkin untuk menghilangkan stres. Senin sampai Jumat kan kita kerja, jadi Sabtu-Minggu di rumah dinas itu lebih banyak waktu masing-masing di kamar karena sudah capek sama kerjaan. Kalo dibilang sangat ceria tidak juga, tapi dia bukan tipe yang sangat pendiam,” ucapnya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.