Oleh: Asrul Umarama

Pegiat PILAS Institute

_______

“Alih-alih pengaruh domestik kehidupan dalam rumah harus melapaskan diri dari benak konsep keidealisan, kemudian dibebankan moral baik buruknya hidup oleh kedua orang tua, ini merupakan sebuah konsep yang ditanamkan sejak kecil. Bagaimana tidak, ketika dalam masa perkuliahan engkau akan ditanya kapan wisuda. Setelah wisuda kapan mendapatkan pekerjaan, dan begitu seterusnya. Alhasil harus terjerumus fakta dan terlepas belenggu moral sebelumnya”.

MALUKU Utara memiliki keindahan yang luar biasa, termasuk pantai dan laut. Selain memiliki keindahan alam, Maluku Utara dikenal dengan empat kerajaan Islam tertua di Nusantara. Dalam konteks kebudayaan, Maluku Utara kaya akan tradisi dan adat istiadat yang beragam dan dipengaruhi dari berbagi suku dan sejarah perdagangan rempah-rempah mulai dari cengkeh hingga pala. Namun, kekayaan yang dimiliki kini sudah tidak lagi direpresentasikan oleh elite lokal itu sendiri. Sayangnya, pergeseran ini terjadi ketika masuknya investasi pertambangan.

Tambang yang membawa statement yang selalu menyejahterakan masyarakat kini hanya ilusi, sehingga perampasan ruang hidup terjadi. Kehadiran tambang saat ini telah memicu berbagai kerusakan alam dan menjadi ladang bisnis di sana, sehingga warga sekitar merasa kerugian yang ditimbulkan seperti kerusakan lingkungan, pencemaran air, dan gangguan kesehatan juga harus dipertimbangkan. Padahal kita semua menyadari bahwa sangat besar manfaat alam bagi kehidupan.

Politik perampasan ruang hidup dan penghancuran tata ekologis tengah berlangsung secara masif di Maluku Uatara. Kerugian yang dialami masyarakat setempat karena tanah dan hasil kebun semua sudah diambil secara paksa oleh perusahaan. Tangisan dan kesedihan masyarakat tetapi pemerintah tidak memperdulikan itu.

Keluhan warga lingkar konsesi pertambangan yang tanahnya dipaksa konversi menjadi kawasan industri kampung yang bernilai secara paksa relokasai hingga bencana ekologis yang menimpa mereka tidak pernah sampai ke telinga perusahaan dan penguasah. Jika suara itu mulai menyusup masuk dekat ke kuping kekuasaan maka bedil senjata yang dibeli dari pajak rakyat siap ditembak kembali pada rakyat.
Tanah di wilayah asing diambil secara politis lebih kurangnya kekerasan. Karena tanah penting artinya bagi cara di mana pemenang akan mengeksploitasi hak-haknya, tanah juga memainkan peran penting bagi struktur ekonomi yang lain. Seperti dikatakan dengan tepat berulang kali oleh Franz Oppenheimer, sewa tanah sering merupakan produk penaklukan politik dengan kekerasan.

Dengan adanya sebuah ekonomi subsistem dan sebuah struktur feodal pendudukan ini berarti, tentu saja, bahwa petani di kawasan yang dicaplok tidak akan dihabisi tetapi akan dikucilkan dan diharuskan membayar upeti kepada penakluk. Hal ini terjadi setiap kali tentara sudah bukan lagi merupakan suatu volksheerbaan yang terjadi dari orang-orang bebas yang mempersenjatai diri, seperti Tentara Parsia, Arab, Turki, Norman, dan Vasal Feodal Barat pada umumnya.

Di sini kami ketahui bahwa pemerintah menggunakan ideologi kapitalis agar berkurang yang selalu melawan mereka. Di mana pemerintah akan jadikan Maluku Utara sebagai lahan bisnis. Semestinya, masih tajam kenapa sampai masyarakat Indonesia mengatakan hukum mengarah ke bawah karena hukum bisa dibeli dengan uang.

Kepentingan sewa tanah juga sangat berarti bagi komunitas perdagangan plutokratik yang terlibat dalam penaklukan. Karena orang lebih suka menginvestasikan keuntungan komersial pada tanah dan budak belian, maka tujuan norma peperangan. Di zaman kuno sekali pun adalah mendapatkan tanah subur yang cocok penarikan sewa tanah. Perang Lelantine, sewa tanah.

Perang Lelantine, yang menandai semacam itu dalam sejarah Hellenis mula-mula, nyaris sepenuhnya dilakukan di laut antar kota-kota dagang. Tetapi pangkal sangketa antar kaum patrisian terkemukah Chalcis dan Eratria, selain berbagi rupa upeti, adalah tanah subur Lelantine.

Salah satu priviles paling penting yang jelas jelas ditawarkan Lige Maritim Attic bagi demos kota yang berkuasa adalah menghentikan monopoli tanah kota-kota yang ditentukan. Orang-orang Athena menerima hak untuk memilki dan menggadaikan tanah di mana saja.

Di mana, kehadiran tambang membuat kehancuran dan kematian dimana-mana. Karena, pemerintah Indonesia dan Cina sudah membuat salah satu rancangan yang dimana tidak diketahui masyarakat. Seharusnya, pemerintah dan aparat keamanan melindungi masyarakat bukan untuk membuat masyarakat sengsara dan membunuh masyarakat.

Tanah yang dimana dijadikan lahan pertambangan, mereka hanya untuk mengambil hasil alam. Sementara yang sedang mengambil hasil alam, itu yang mengelolah pertambangan bukan orang-orang atau masyarakat Indonesia. Kenapa, karena pemerintah sudah menggunakan tanah Maluku Utara untuk dijadikan lahan bisnis. Aparat hanya gila rupiah (uang) untuk disuruh-suruh.

Keadilan adalah kebijakan utama dalam institusi sosial, sebagaimana kebenaran dalam sistem pemikiran. Suatu teori, betapapun elegen dan ekonomisnya, harus ditolak direvisi jika tidak benar, demikian juga hukum dan institusi, tidak peduli betapapun efisien dari rapinya.

Sekarang mereka hanya buat kebijakan yang tidak diinginkan. Tambang membutuhkan pekerja yang umurnya masih muda sementara mereka mencari kesalahan demi kesalahan untuk pekerja yang umurnya sudah di atas, mereka mencari kesalahan agar di-PHK atau dipecat. Di sini kami tahu bagaimana kapitalis membuat rancangan untuk masyarakat Maluku Utara.

Sekarang kita mesti meninjau persoalan keadilan antargenerasi. Tidak perlu ditekankan kesulitan- kesulitan yang disebabkan tersebut. Setiap teoritis telah melakukan beberapa pengujian yang sulit bahkan hampir mustahil terhadapnya. Fairness mengatakan bahwa sekarang tanpa pikir panjang bisa dilihat bahwa prinsip diferen memerlukan minim yang sangat tinggi. Orang biasanya membayangkan bahwa kesejahteraan yang lebih tinggi dari mereka yang dalam keadaan lebih baik hendaknya diperkecil hingga akirnya setiap orang mempunyai pendapatan yang hampir sama. Tapi ini merupakan sebuah masalah, meskipun mungkin bisa terjadi dalam keadaan tidak baik-baik saja. Harapan yang tepat dalam menerapkan prinsip diferen adalah dari prospek jangkah panjang.
mereka yang paling tidak beruntung yang meluas hingga membuat kesalahan yang paling besar. Setiap generasi atau masyarakat harus mempertahankan keuntungan budaya dan peradaban, dan menegakan keutuhan institusi yang adil dan telah dibentuk, tetapi dalam rentang waktu ini juga harus menyisihkan jumlah akumulasi modal yang sesuai. (*)