Oleh: A. Malik Ibrahim
_______
Kota itu–hanya sebuah kiasan–tak bersendikan kata dan kekuasaan, melainkan pada sukma manusia.
KOTA Ternate lahir pada 29 Desember 1250. Sebuah periode simbolis yang penuh
semangat heroisme. Kelahirannya berdialektika dengan hegemoni manusia, sejarah dan rempah.
Kala itu, Ternate adalah sebuah kosmopolit. Pusat perdagangan antarbangsa. Semenjak Portugis melabuhkan kapalnya di Ternate, kawasan ini bukan lagi sebuah terra incognita; negeri yang tak terbayangkan.
Dari ratusan tahun silam, sebuah domain yang bernama “kota” struktur dasarnya adalah pusat sejarah manusia. Bukan batu, gunung atau hutan belantara yang menjadi etalase bermukim. Karena yang dibangun adalah kota yang menerus di mana sejarah terus bernafas.
Ternate di abad lampau, tak memiliki prasasti. Tidak ada dokumen yang menjelaskan; yang dapat memberi petunjuk faktual yang mendukung penetapan tersebut. Dengan menimbah sejarah, penetapan tanggal 29 Desember itu sejalan dengan peristiwa heroik pengusiran Portugis oleh rakyat Ternate di bawah pimpinan Babullah pada tanggal 29 Desember 1575.
Di tanah jajahan ketegangan bukannya tidak terjadi. Orang masih ingat bahwa pada zaman itu pribumi masih dihinakan lebih buruk daripada anjing oleh penjajah Portugis. Ternate berdenyut dalam nadinya yang marah. Setelah mengepung benteng Sao Joao Bautista – Gamlamo selama 5 tahun. Babullah dan 10 ribu pasukannya telah memaksa kolonialisme Portugis meninggalkan negeri ini dengan hina.
M. Adnan Amal (2008) menulis dalam “Tahun-Tahun yang Memastikan“:
“Pada 27 Desember 1575, tepat jam 09.00 pagi bertepatan dengan Saint Stephen’s Day (Hari Suci Santo Stefanus), Gubernur de Lacerda yang berjalan tertatih-tatih keluar dari gerbang benteng Gamlamo diikuti penghuni lain yang semuanya dalam kondisi sangat memprihatinkan, karena sakit dan kelaparan serta kekurangan nutrisi…”.
Di kota ini peristiwa muram itu selalu bersejarah di benak rakyat. Roh jahat
Gubernur Mesquita, pembunuh Sultan Khairun terus bergentayangan. Demikian pula Gubernur Portugis terakhir, Nuno Pareira Lacerda, digiring ketakutan, setelah menghirup begitu lama bau amis penderitaan dalam benteng Gamlamo. Suasana hampir selalu kelabu. Konon, banyak orang tersiksa dan bunuh diri dalam
pengucilan itu.
Barangkali ia tidak membayangkan tatkala kapal itu menembus laut. Ternate adalah poros dunia, axis mundi, titik dan tanah keramat yang menghubungkan manusia dengan yang Ilahi. Setelah peristiwa itu, Ternate mengalami novis atau masa baru—suatu episode peralihan zaman sebuah kota.
***
Orang bisa melihat penanda perubahan sebuah kota. Apalagi dalam gagasan kota manusia. Kota yang berpijak pada khazanah budaya dan batin yang dalam. Sejatinya Ternate bisa tumbuh dan berkembang dari dalam (from within), bukan karena transplantasi yang dipaksakan.
Kelihatannya Pemerintah Kota berada di persimpangan kebijakan publik, dan seharusnya melakukan beberapa perubahan besar terkait rancangan kota sehat.
Fenomena ini telah membawa kota bergerak tanpa pemandu yang hanya diisi oleh kekuatan tunggal investasi “single force”.
Melihat kenyataan di masa lalu dan kecilnya kemungkinan perbaikan di masa depan, membuat orang tercenung; seraya berkata, “ternyata kota ini cuma dibangun dengan semburan kata-kata hampa. “Gambaran suatu kota bak perempuan nyinyir dengan lidah berdecak dan mulut penuh kata-kata sepanjang jalan. Air selalu mati, sampah berserakan, banjir, comberan di tepi jalan berlubang dan galian yang membujur sepanjang jalan. Papan iklan, rambu-rambu peraturan serta semburan asap buangan kendaraan dan seterusnya”.
Naif, sesuatu yang sungguh sia-sia, bila kita menyebut Ternate kota yang merasa gelisah oleh maraknya pragmatisme pembangunan. Di dalam gagasan sosial budaya, banyak warga pada hakikatnya juga tidak begitu peduli terhadap ketidaksehatan sampah, antara lain karena secara psikologis mereka sendiri kerap merasa “disampahkan” oleh pemerintah yang hanya sekadar jadi “deal maker”.
Bagaimanapun, prinsip menjadikan Ternate sebagai kota sehat berkeberlanjutan penting diajukan dengan satu alasan. Tentunya komitmen ini harus didahului oleh bukti pelayanan publik yang baik dan adil. Bukan kota yang asing bertumbuh, lebih cepat daripada kemampuan kita berkata-kata. Sebuah kota kerap hanya dilihat dalam wujud struktur ruang monoton, padahal sesungguhnya berlawanan dengan jati diri Ternate. Mungkin ini sekadar kepekaan kita membaca tanda-tanda zaman atas karakter sebuah kota. Kota yang berkembang dari dalam (planning from within) adalah kota yang mengalirkan kesadaran sejarah – ia dituntun fenomenologi peradaban kota.
***
Dalam perspektif sosiologi, kota adalah “ajang bertempur” semua kekuatan. Semua kekuatan mencoba menaklukan kota dengan cara mengalahkan kekuatan lain. Orang-orang yang tinggal di bantaraan kali sungai pada hakikatnya adalah entitas yang ditaklukan oleh kekuatan lain. Mereka ini bisa pemodal atau masyarakat biasa yang memiliki status sosial berlebih. Korban penggusuran juga merupakan kelompok masyarakat yang memiliki nasib yang sama, dikalahkan oleh kekuatan lain. Mereka adalah orang-orang kalah yang memperebutkan ruang-ruang kota.
Perebutan ruang kota dengan segala aspek, hakikatnya bisa riil, tapi juga simbolik. Pendirian tugu, monumen, atau patung-patung adalah perebutan ruang kota simbolik. Dalam konteks Ternate, alun-alun (Ngaralamo) merupakan ruang yang terus menerus diperebutkan. Perebutan tersebut secara riil maupun simbolik, namun lebih banyak bersifat simbolik.
Melihat kota dari dimensi sejarah akan memperkaya perspektif kita dalam memahami regenerasi perkotaan. Kota yang menerus–bukan yang tertunda—membaca anomali dan kontradiksi Ternate, artinya bagaimana mengatasi begitu banyak ragam kepentingan manusia. Kota bisa memperlihatkan wajahnya yang amat humanis, tetapi bisa juga memamerkan kekuatan yang menindas.
Dampak meluas dari “single strategi” ini adalah munculnya kondisi yang disebut sebagai “spatial chaos”. Situasi dimana market hanya peduli pada ruang dan lahan yang dikontrol saja. Akibatnya, ruang perkotaan lain menjadi ruang sisa atau lahan pinggiran. Dalam terminologi Trancik (1986) disebut sebagai “lost space”. Oleh Habermas (1989) disebut “exclusion”, ruang yang dibuang yang pada akhirnya justru berbalik arah memberi karma berupa banjir, konflik lahan dan kecemburuan sosial.
Tapi, apakah keadaan Ternate sedemikian itu? Rencana tata ruang kota harus berkarakter, tidak sekadar cetak biru. Terasing dari kenyataan empiris, apalagi
hegemoni. Kita dituntut mengasah ketajaman transendental – bahwa rencana kota itu maujudnya adalah integrasi sosial. Bukan kelak memarginalkan masyarakat.
Semoga Hari Jadi Ternate 774 tahun ini menjadi tonggak untuk belajar melihat ke dalam, menemukan kembali jati diri Ternate. Membaca kembali sejarah Ternate dengan jendela yang lebih lebar. Dirgahayu Ternate! (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.