Menurut saya, dia adalah birokrat yang tak pernah diam ketika ada permasalahan yang tidak direspon secepatnya. Atau bahasa ilmu Pemerintahan disebut Agile Governance. Yakni, kemampuan pemerintah untuk merespons perubahan dengan cepat dan berkelanjutan. Agile governance juga dapat diartikan sebagai tata kelola yang gesit, yang menggabungkan kemampuan agile (gesit) dengan governance (tata kelola).
Ulasan berbagai literatur, kemunculan agile governance sesungguhnya dapat mendorong semua yang ada didalam entitas organisasi dapat menerapkan tata kelola organisasi yang agile (gesit) guna meningkatkan proses kinerja dan produktivitas organisasi (Luna, Kruchten and de Moura, 2015).
Yang lebih saya kagumi adalah kesederhanaannya dalam berbusana. Dalam setiap status-statusnya, IMS menggunakan busana yang sederhana. Bahkan hanya dalam balutan rompi warna kuning yang digunakannya berkali-kali. Entah saat kerja turun ke lapangan maupun saat kampanye. Bahkan dia tak mendahulukan dirinya membangun rumah pribadi untuk ditempati, melainkan mendahulukan masyarakatnya.
Adabnya tinggi, tidak meremehkan orang. Siapapun dia, darimana suku dan rasnya. Dia tampak enjoy berhadapan dengan mereka. Dia memanusiakan manusia tanpa syarat, tanpa jarak dan tanpa sekat.
Ketika menjabat sebagai pejabat Bupati, IMS tidak jor-joran bangun infrastruktur. Tapi menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat; kesehatan, pendidikan, kebutuhan air bersih, rumah layak huni, dan kebutuhan dasar lainnya yang selama ini dianggap menjadi beban masyarakar. Kepemimpinannya out of the box. Keluar dari pakem seorang bupati yang harus dielu-elukan.
Berpasangan dengan Ahlan Djumadil, IMS tak salah memilih. Watak keduanya hampir sama. Ahlan adalah senior saya di HMI Cabang Ambon, dan tahu banyak tentang dirinya. Seorang aktivis yang memiliki banyak senior HMI yang memiliki integritas.
Semoga warga Halmahera Tengah tidak salah memilih pemimpinnya pada 27 November mendatang. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.