Begitupun identitas pada agama. Satu agama berbeda dengan agama lainnya. Hal ini bisa kita lihat dari kitab suci, tata cara beribadah, bentuk rumah ibadah dan seterusnya.

Artinya, identitas adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa terelakkan di muka bumi ini. Tanpa identitas, kita tidak bisa membedakan setiap hal yang terjadi di muka bumi.

Politik Identitas

Beberapa hari lalu, pada acara dialog yang digagas oleh Komunitas Djarot di Ternate, saya mendengar Margarito menyampaikan pandangannya tentang politik identitas.

Margarito bilang, dalam momentum pemilihan Gubernur Maluku Utara, kita tidak usah bicara politik identitas. Tidak ada gunanya, menurut Dr. Margarito, problem Maluku Utara bukan soal identitas, tapi pada kapasitas, yakni kapasitas pemimpin.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan kepada Dr. Margarito, bahwa politik identitas tidak bisa terelakkan dan berlaku di semua segmen politik di tanah air. Bukan hanya pilkada, namun pada pemilihan presiden.

Politik identitas itulah, di mana Jawa sebagai suku terbesar dan menguasai lumbung suara secara nasional, selalu mejadi lahan rebutan. Siapa menguasai Jawa, dia menjadi presiden. Di era politik elektoral, calon presiden yang berasal dari suku Jawa memiliki peluang lebih besar terpilih dibandingkan dari luar jawa. Nahdatul Ulama (NU), sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia, sehingga siapa menguasai NU, dia menguasai Islam.

Bahkan, negara super demokrasi seperti Amerika Serikat pun terpapar politik identitas. Ketika Donald Trump berbicara tentang isu imigran pada saat masa kampanye Pilpres Amerika Serikat pada 2016 lalu dengan misi American First: Make America Great Again dan terpilih sebagai presiden Amerika ke-45.