Oleh: Agus SB
Pengajar Antropologi IAIN Ternate
Wakil Ketua ICMI Orwil Malut Bidang Kebudayaan
________
DALAM lembaran sejarah tertulis umat manusia, di sana selalu ada kisah penindasan dan penaklukan dari manusia-manusia yang lebih kuat, yang beringas atas manusia-manusia lain yang lemah, tak berdaya. Bagaimana kisah mengerikan itu bisa ada pada manusia? Ada banyak kemungkinan jawaban yang dapat diajukan; berderet dari argumen sumberdaya alam, hingga perdebatan antara penganut psikobiologis dan sosiobiologis.
Membaca kisah-kisah ketidakadaban manusia atas manusia lain selalu terasa melelahkan secara psikologis. Namun, dari kisah-kisah itu pula kita tahu, kemerdekaan yang memang diyakini kaum beriman sebagai pemberian Tuhan itu direngut yang kuat, kemudian diperjuangkan si lemah. Faktanya, perjuangan merebut kembali kemerdekaan yang direngut itu belum atau bahkan tak akan pernah selesai. Harus diperjuangkan untuk direbut kembali dan berkali kali, dalam sejarah kita sebagai manusia, sebagai sebuah negara-bangsa.
Mengapa mesti diperjuangkan untuk direbut kembali berkali kali, baik sebagai manusia maupun sebagai sebuah negara-bangsa, disebabkan fakta di masa kini, dimana dominasi dan penindasan kerapkali tak lagi mengambil bentuk fisik tetapi melalui penindasan pikiran, gaya hidup, bahkan cara hidup. Bentuk-bentuk baru totalitarianisme. Wujud dominasi dan penindasan seperti ini bahkan telah menjadi hegemonik sehingga iklan pakaian baru yang menggoda serta merta terasa sebagai kebutuhan yang dirasakan (felt need) meskipun faktanya bukan itu kebutuhan nyata (riil need) kita. Seperti panggilan azan bagi seorang muslim yang taat, kita bisa bergegas membeli dan mengonsumsinya setelah melihat iklan itu, bukan lagi dikonsumsi karena kebutuhan menutupi aurat, tapi sekadar performance, pertunjukan status sosial. Fakta demikian bukanlah sekadar terkaan imajinasi saya.
Bagaimana wujud baru totalitarianisme global itu beroperasi barangkali dapat digambarkan melalui fenomena berikut: etnoscapes, lalulintas manusia dari berbagai latar sukubangsa dan budaya yang mengitari permukaan bumi sejauh dijangkau oleh transportasi darat, laut dan udara. Apa yang membersamai manusia yang ke utara ke selatan ke timur, ke barat, dan sebaliknya, saling bertemu di berbagai lokasi dan waktu, bukanlah sekadar barang bawaan, tapi juga ideologi, gagasan, gaya hidup dan cara hidupnya masing-masing. Fenomena ethnoscape ini menciptakan arus pertukaran (reciprocal) yang bisa simetris, bisa asimetris, disadari atau pun tidak. Berbarengan dengan fenomena itu adalah mediascapes, dimana repertoar gambar informasi, arus yang diproduksi dan didistribusikan oleh surat kabar, majalah, televisi, film, internet dan smartphone dapat melintasi serentak beragam ruang di muka bumi. Terkait di dalamnya ideoscapes, yaitu aliran citra-citra (images) yang berasosiasi dengan ideologi negara (atau gerakan kontra-negara) seperti kebebasan, kesejahteraan, hak asasi, dan sebagainya. Mesin-mesin dan aliran korporasi diproduksi oleh perusahaan multinasional, perusahaan nasional dan pemerintah berbagai negara yang bermigrasi dari satu area ke area lain di muka bumi, membentuk fenomena yang dinamakan Appadurai sebagai technoscape. Berkaitan di dalamnya fenomena finanscapes, dimana aliran uang yang cepat beredar di pasar mata uang dan bursa saham (lihat Appadurai, “Disjuncture and Difference in the Global Cultural Economy” dalam Global Culture, Nationalism, Globalization and Modernity, 1990).
Fenomena ini, telah dikatakan sebelumnya, dapat membentuk totalitarianisme global, bentuk baru totalitarianisme dimana tak satu pun negara (bangsa) di dunia ini dapat mengelak dari akibat-akibat yang disebarkan. Sampai tingkat tertentu, seperti kekuatan teknologi militer dan informasi, negara-negara seperti Rusia, Amerika Serikat dan Cina tentu saja masih dipandang mendominasi dunia. Namun ketiganya juga dapat menerima feedback negatif dan positif dari kemajuan teknologi dan informasi dari berbagai belahan dunia lainnya, seperti halnya dialami negara-negara lain. Totalitarianisme anonim ini memiliki kekuatan melalui keempat fenomena global di atas, dapat mengubah dan membentuk cara berpikir-berperilaku kita, gaya hidup kita, bahkan cara hidup individu, kelompok bahkan sebuah negara-bangsa seperti Indonesia. Di sini muncul perdebatan di antara penganut homogenisasi kebudayaan oleh kekuatan globalisasi, dan kaum penganut pendapat bahwa globalisasi akan mempertajam heterogenisasi. Bagi yang pertama, globalisasi yang didorong lima urat nadi di atas akan menyebabkan budaya-budaya di berbagai belahan bumi mengalami homogenisasi. Bagi yang kedua, globalisasi akan ditangkap secara berbeda oleh berbagai budaya-budaya di dunia yang beragam. Bagi saya, kedua hipotesis itu “mungkin”.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.