Dari rentetan gambar dan vidio pendek yang beredar, terlihat sebuah forum konsolidasi kelompok pendukung bakal calon Putra Asli ini dengan latar cukup banyak orang, suasana riuh, bersemangat dan gegap gempita menebar idiom-idiom lokal bermakna solidaritas dan persatuan, sembari ada narasi memberi warning kepada bakal calon lainnya. Seolah hendak menegaskan latar historis, harkat dan martabat hingga kualifikasi sumber daya manusianya yang cukup tersedia untuk ukuran menjadi pemimpin daerah. Halmahera Tengah bukan Ternate misalnya, sebuah potret daerah, yang satu-satunya di Maluku Utara dengan latar heterogenitas yang kental dan menjadi lahan subur ruang kontestasi bagi siapa saja.
Sebagai pribadi, saya pernah terlibat hingga ikut berperan mendorong pemekaran daerah Halmahera Tengah ini, di saat itu, dalam posisi sebagai wakil elemen muda, sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia [KNPI] Halmahera Tengah. Yang kebetulan juga, sang calon, Bupati Periode Pertama yang bakal berkontestasi lagi ini, adalah ketuanya. Seringkali saya membathin ketika mengingat masa-masa itu, sebuah masa, di mana tekanan hingga ancaman secara fisik, adalah buah yang kadang kami terima sebagai efek dari pertarungan kepentingan para elit daerah saat itu.
Saya, dan kita semua sangat mungkin tak tahu, motivasi apa yang sedang yang bergejolak dalam bathin para bakal calon Kepala Daerah yang saat ini sedang mengambil ancang-ancang memulai kontestasi. Sama seperti ketika kita di buat bingung oleh siliweran opini dan berita media, untuk dapat memastikan apa saja penyebab utama banjir bandang ketika curah hujan meninggi di sana, di Halmahera Tengah yang kaya tambang itu, di pekan-pekan terakhir ini.
Saya jadi mengingat sebuah anekdot tentang janji calon pemimpin dalam sebuah kontestasi : di masa sekolah dulu, pembuka sebuah karangan bebas biasanya di mulai dengan kata-kata “pada suatu hari”. Saat ini, kalimat pembukanya berubah menjadi “jika saya terpilih”.
Bagi saya, dalam urusan politik itu, motivasi dan kinerja hingga sesuatu yang kita terjemahkan sebagai prestasi dari pemimpin politik, jangan di telan mentah. Ini bukan Sasimi ataupun Gohu, sejenis menu berbahan dasar daging ikan mentah khas Maluku Utara. Dia penuh trik dan intrik. Cukup 30 persen percayanya dan saving sisanya untuk minimal, di amati dengan curiga. Dan saya menduga, sebagian anggota grup media Facebook tadi, pasti telah memahaminya. Wallahu’alam. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.