Karena, bila dilihat latar belakang pendidikan mereka, berbeda dengan jabatan politik yang mereka emban dalam pos kementerian, walau, misalnya, mereka kuliah di Amerika Serikat. Gak matching, kata anak-anak Gen Z.

Di luar dua isu di atas, tulisan singkat ini akan menambahkan sebuah isu lagi, yang sejauh ini belum diangkat siapapun terkait perkembangan kebijakan selama ini.

Kita tentu masih ingat dengan pertanyaan Cawapres Gibran kepada Cawapres Cak Imin (Ahmad Muhaimin Iskandar) tentang GIEI dalam acara debat antar Cawapres tempo hari.

Ketika itu memang terkesan bahwa Cak Imin “kelabakan”. GIEI adalah singkatan dari Global Islamic Economy Indicator. Pertanyaan, kalau sebatas kepanjangan, tentu tidak bermutu untuk sebuah debat kenegaraan.

Namun, di sisi lain bagi penulis ketika itu terbersit sedikit harapan bahwa Cawapres ini masih punya ‘perhatian’ kepada pengembangan ekonomi Islam.

Namun, penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Wamenkeu dan [mungkin] nanti akan menggantikan Sri Mulyani, membuat pertanyaan GIEI betul-betul sebatas gimmick yang dangkal, tidak bermutu, dan diangkat untuk sekedar mempermalukan Muhaimin Iskandar saja. Lho, kenapa demikian?

Mari kita analisis sedikit lebih jauh. Menkeu saat ini, Sri Mulyani seorang ekonom Muslimah, dan sudah pula diangkat sebagai Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) sekaligus Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), keduanya di tingkat pusat atau nasional, tidak tampak banyak mengangkat sistem ekonomi Islam di tanah air.