“Dengan hadirnya teknologi HPAL ini, kita dapat mengolah limonit menjadi MHP ataupun mixed hydroxide precipitate, nikel sulfat, dan kobalt sulfat,” imbuhnya.
Singkatnya, proses produksi diawali dengan tahap persiapan yakni mencairkan bijih nikel kadar rendah yang tadinya berbentuk tanah. Bahan lalu dimasukkan ke tahap high pressure acid leaching menggunakan asam sulfat dan steam (uap bertemperatur tinggi).
Roy menjelaskan, pada tahap ini, produk masuk ke dalam tabung bernama autoclave. Setelah itu, nikel masuk ke tahap netralisasi dan sejumlah proses lainnya dengan tujuan untuk membuang bahan-bahan yang tidak diperlukan.
“Dan setelah melalui proses MHP kita akan melalui proses yang namanya solvent extraction untuk menghasilkan nikel sulfat dan kobalt sulfat. Kemudian larutan nikel sulfat dan kobalt sulfat akan kita proses kembali menggunakan proses kristalisasi sehingga mendapatkan kristal nikel sulfat dan kobalt sulfat seperti yang sudah kita lihat,” paparnya.
Kristal nikel sulfat dan kobalt sulfat yang dihasilkan akan dijual sesuai ukuran. Namun masih ada sejumlah tahapan lagi sebelum nikel sulfat bertransformasi menjadi baterai listrik.

“Setelah dari kobalt sulfat dan nikel sulfat akan menuju ke prekursor baterai, setelah itu katoda baterai. Jadi kalau bisa saya bilang produk yang dihasilkan Harita Nickel sudah di setengah jalan untuk mencapai baterai listrik,” terang Roy.
Sementara Head of Technical Support Harita Nickel Rico Windy Albert mengatakan, bijih nikel pertama kali melewati tahap penyaringan kasar dan halus untuk memisahkan material besar seperti batu dan kayu, serta objek asing lainnya. Bijih yang sudah disaring kemudian dibersihkan dengan air. Atau proses secara singkat, dijelaskan oleh Nico, dimulai dari tahap Ore Preparation, Grinding Station, Pemanasan dan Leasing, pengendapan, penyesuaian kadar keasaman, pembentukan MHP, dan pemrosesan MHP.
“Pemrosesan MHP kemudian diproses lebih lanjut, termasuk di dalam mesin press, untuk menghasilkan produk akhir seperti nikel sulfat dan kobalt sulfat yang siap dipasarkan. Setiap tahap dalam proses ini sangat terkoordinasi sehingga menghasilkan produk akhir yang berkualitas,” jelasnya.
Besaran Produksi
Kepala Teknik Tambang PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) Primus Priyanto mengatakan, pada 2024 ini, direncanakan sekitar 27 juta bijih nikel gabungan kadar tinggi (saprolit) dan kadar rendah (limonit) akan disuplai atau dikirim ke semua pabrik pengolahan pemurnian yang telah beroperasi di Site Obi.
“Total inventori bijih yang dimiliki mencapai sekitar 3,9 juta ton untuk bijih saprolit dan sekitar 15 juta ton untuk bijih limonit. Inventori bijih tersebut berasal dari semua stockpile yang ada di Harita Nickel. Jumlah inventori tersebut mampu memastikan ketersediaan pasokan bijih untuk semua pabrik sampai dengan 5 atau 6 bulan ke depan,” terang Primus.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.