Namun, semua berubah sejak adanya tambang pasir. Akses jalan menuju Lamberang jadi jauh dan sulit untuk ditempuh. Kami mesti mengambil jarak yang semakin jauh untuk menuju ke sana.

Karena adanya galian tambang itu, menyebabkan lahan milik kakek saya tertimbun. Padahal, oleh penambang, katanya nanti akan diambil kembali. Kenyataannya tidak dilakukan. Hal itu mengakibatkan lahan yang semula produktif menjadi tidak aktif lagi. Lahan dengan timbunan yang membentuk gunung-gunung itu, kemudian ditanami dengan pohon pepaya dan pisang. Juga dengan labu, timun dan ubi jalar maupun singkong, sebagai penanda.

Pernah juga satu lahan timbunan itu ditanami pare (paria) dengan rapi. Area tanahnya ditancapkan kayu-kayu untuk tempat merambatnya. Ketika tumbuh, tampak seperti lorong-lorong pare yang subur hijau.

Hanya saja, untuk sampai ke lahan tersebut, kami harus berjalan melewati tiga sawah, lalu menyeberangi air dan mendaki hingga ke atas lahan tersebut. Biasanya, jika sedang musim hujan, air kolam bekas galian tambang meluap. Terpaksa, mau tidak mau, kami harus mengambil rute dengan menyeberangi kolam bekas galian itu, yang tentu saja lebih jauh.

Kerugian itu, saya yakin dirasakan juga oleh orang lain yang punya sawah dekat dengan lahan kami. Sebab, sawah mereka juga terendam air dari galian tambang yang sangat merusak itu.

Di balik itu, saya suka bermain di sana bersama teman saya, Ica dan Kiki untuk sekadar piknik atau menikmati hasil panen. Kami sering berjalan-jalan di sawah untuk mencari sayur kangkung ikut dengan ibu-ibu atau sekadar foto-foto saja.

Di desa kami, yang berada di Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, mayoritas penduduknya sebagai petani. Padi dan jagung merupakan tanaman yang selalu ditanam bergantian mengikuti musim. Biasanya para petani membajak sawah menggunakan traktor yang sederhana. Sekarang mereka sudah beralih menggunakan peralatan yang lebih modern (mobil blender).