Id sebenarnya tidak membedakan segala sesuatu yang dihadapinya, apakah ingatan, tanggapan atau halusinasi sehingga dalam pemilihan objeknya bisa saja terjadi baik pada pengamatan realitis maupun pada tanggapan ingatan yang memenuhi keinginan, sedangkan dalam Ego terjadi perbedaan sehingga dalam proses itu terjadi penonjolan proses skunder dan seakan-akan energi psikis di dominasi oleh Ego kalau itu gagal memuaskan insting. Ego juga digunakan untuk kegiatan lain (kegiatan proses psikologis lainnya). Sebagian lagi energi itu digunakan untuk mengekang Id agar tidak influsif dan agresif (kekuatan pengekangan atau penahan disebut anticathexis dan jiwanya cathexis pendorong). Sebagai aspek pelaksana kepribadian, ego mempergunakan energi yang dikuasainya untuk mengintegrasiakan ketiga aspek kepribadian.
Mekanisme identifikasi tidak saja berkaitan dengan ego tetapi juga berkaitan dengan penyaluran energi ke Superego, seperti proses awalnya terjadi pada pemenuhan kebutuhan bayi yang tergantung pada orangtua atau substitusi orangtua. Hal itu berkaitan dengan upaya pendisiplinan, pengajaran moral, dan nilai-nilai tradisional pada anak dengan memberikan hadiah dan hukuman. Meskipun energi itu dapat digunakan oleh Ego dan Superego, bagi Freud, bisa saja terjadi energi itu di ambil kembali oleh Id yang kemudian menyebabkan terwujudnya perilaku influs dan primitif (Suryabrata, 1988:154-159). Kehidupan manusia atau individu sebenarnya merupakan pertentangan antara kekuatan mendorong dan kekuatan penahan. Keinginan untuk mencapai kemenangan yang bersumber dari id. Sangat kuat dan lingkungan untuk mencapai kepuasan itu bisa menyenangkan dan sekaligus juga bisa mengancam menghadapi situasi ancaman itu, manusia menjadi cemas atau takut.
Kecemasan dalam teori Freud ada tiga yaitu kecemasan realitas, kecemasan neurotis dan kecemasan moral. Kecemasan realitas disebabkan oleh bahaya atau ancaman dari luar dan kecemasan itulah yang menjadi besar terhadap kedua kecemasan lain. Kecemasan neurotis ditimbulkan oleh adanya kemungkinan tidak terjadi insting kemudian mendorong individu tersebut suatu yang bersifat agresif sehingga dapat dihukum. Kecemasan moral adalah kecemasan kata hati, yaitu orang berpikir untuk berbuat sesuai dengan norma masyarakat (sesuai dengan tuntutan Super ego) dan orang takut mendapatkan hukuman lagi seperti yang terjadi pada anak-anak.
Teori Mimpi
Teori mimpi merupakan salah satu penuaan Freud mempunyai kedudukan penting dalam perkembangan psikoanalisis Freud melihat ada persamaan antara mimpi dan peristiwa tidak sadar seperti pada kasus pisikosis halusinasi yang akut. Halusinasi muncul karena tidak terwujudnya hasrat tersembunyi. Mimpi berkaitan dengan hasrat tersamar dan mimpi merupakan cara lain untuk melihat hasrat kita terwujud.
Mimpi orang dewasa lebih sulit untuk dipahami karena penuh teka teki atau struktur yang rumit. Sedangkan mimpi anak-anak strukturnya lebih sederhana sehingga mudah dipahami.Mimpi mempuyai dua isi menipes dan laten menipes adalah gambar-gambar yang kita ingat sewaktu kita bangun, sedangkan isi laten sulit dipahami karena silat tersembunyi. Isi laten itulah yang sulit ditafsirkan, isi laten ialah teks asli yang bersifat primitif yang sudah diputar balikan oleh isi menipes dan gambar-gambar itu harus disusun kembali menafsirkan mimpi berarti kita memasuki badan mekanisme penyamaran itu.
Dalam hal ini kita akan menjelaskan hasrat tersembunyi melalui gambar-gambar mimpi yang melalui teka teki duan tumpang tindih. Mekanisme atau cara kerja mimpi menurut Fraud meliputi:
- Proses figurasi terjadi pemindahan pikiran ke dalam bentuk gambar, pikiran optatif digantikan oleh gambar aktual dan kata-kata dan proses figurasi ini kita akan melihat hasrat dalam bentuk nyata
- Proses kondensasi yaitu peralihan dari konten tersembunyi pada teks yang menipis dengan menghubungkan beberapa pikiran tersembunyi dalam suatu imaji atau gambar tunggal
- Proses pemindahan suatu mimpi kadang-kadang menonjolkan suatu yang berlawanan arah kebalikan dari pikiran laten yang harus diwujudkan. Seakan hal ini akan terhindar dari pelacakan
- Proses simbolisasi gambaran mimpi sering berhubungan dengan pikiran tersembunyi melalui hubungan Analogis dalam (Milner,1992:27-29).
Keempat pekerjaan tersebut disebut pekerjaan mimpi yang membantu menyamarkan hasrat yang tidak wujud pada saat Sadar karena adanya sensor. Pekerjaan sensor itu bersifat khusus dan itulah yang dinamakan repsesi.
Teori mimpi mendekatkan sastra dengan psikoanalisis bagi Freud(1983:33) mimpi yang diciptakan oleh sastrawan kerap kali sama dengan mimpi sejati aktivitas psikis dibawa Sadar pada dasarnya merupakan sebutan untuk pekerjaan kreatif sastrawan. Kreatif itu bersumber dari dorongan insting yang berdahulu pada neurosa. Milner (1992 :33-48) menjelaskan hubungan sastra degan psikoanalisis terbagi menjadi dua yaitu :
1. Freud melihat kesamaan oedipus sang raja karya shopoklesatau hemlet karya shakespiare dengan peristiwa bawah sadar manusia ada hasrat kemasan tersembunyi kehadiran sastra dapat menyentuh perasaan kita sehingga hasrat kita terpuaskan. Hal itulah yang membuat oedipus sang raja atau hemlet dapat diterima oleh oedipus Dimana pun dan kapan saja. Hubungan semacam itu dapat dilihat oleh paklor (legenda). Dengan mimpi bisa kita lihat masa kanak-kanak umat manusia pada umumnya.
2. Proses elaborasi karya sastra ada hubungannya degan elaborasi, karya sastra ada hubungannya degan elaborasi mimpi (pekerjaan mimpi). Mimpi ibarat tulisan yaitu sebagai sistem tandayang menunjuk pada suatu yang lain dan berbeda degan suatu tanda itu. Penafsiran mimpi ada persamaannya dengan penafsiran huruf hieroglif Mesir. Kemudian ada hubungan bagian-bagian yang harus dipahami dalam rangka memahami yang lain. Kalau antologi mimpi itu dikaitkan degan tulisan yang sesungguhnya, keduanya berbeda karena tulisan normal (yang bisa kita lakukan) bersilat linear dan didasarkan pada hubungan logis untuk menyajikan pesan, sedangkan mimpi tidak linear bersilat figuratif dan tumpang tindih sehingga sulit dipahami oleh kita.
Demikian pembahasan singkat dari tokoh psikologi Sigmund Freud dengan menggunakan teori Psikoanalisis semoga bermanfaat bagi kita semua. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.