Jika kita meyakini bahwa arti hidayah-Nya adalah pemihakan dan kecenderungan pada kebenaran yang di pancarkan dan terpancarkan dari hati, maka contoh arti paling operasional dari hidayah itu sendiri adalah kadar sensitivitas, empati dan peduli. Bukan semata-mata soal urusan salat, baca kitab suci, dan lain-lain, karena impact-nya tak operasional, tak berbentuk dan sudah pasti tak terlihat. Anda punya pikiran yang jernih, sensitivitas yang tinggi, empatik, menilai sesuatu dengan nurani keadilan, cenderung objektif, tak terlalu peduli penghormatan, adalah sedikit contoh paling kontekstual dari makna operasional hidayah. Kita semua tentu mengerti dan memahami apa arti salih dan muslih.

Saya bersyukur bahwa “insiden” kecil tetapi bernilai besar yang terjadi di tempat ibadah beberapa tahun lalu itu, memberi saya perspektif dan kesempatan untuk bisa menulis di media ini, beberapa sisi baik pengelolaan tempat ibadah dan komparasinya, baik itu di Maluku Utara, atau bahkan di banyak tempat. Meski juga, mungkin tak lengkap. Dia adalah bagian dari lanskap perenungan dan hikmah, mungkin hanya untuk sebuah perubahan kecil di sekitar kita.

Siang kemarin, di hajatan kawinan tetangga depan rumah yang tepat berada di tiris tempat ibadah itu, saya mengobrol singkat tetapi penuh pesan nilai, dengan istri seorang karib saya, yang di masa pemerintahan sebelumnya di kota ini, berjasa menjadi salah satu advisor, yang telah lama berpulang. Dia menuturkan banyak kisah pilu yang dialaminya bersama ketiga buah hati mereka, yang semuanya perempuan.

Saya menimpali sedikit “curhat”nya tentang bagaimana rasanya orang begitu cepat melupakan kebaikan kita, jika tak lagi merasa ada untungnya. Bahwa hati manusia itu “misteri”, benar adanya. Kepada yang dinisbatkan dalam syair lagu, sepiring berdua hingga sahabat sejati atau bahkan sehidup-semati sekalipun. Waktu dan orientasi terhadap nilai, bisa mengubah semua itu secepat kedipan mata. Kita semua ini hanya aktor yang memainkan serpihan-serpihan “peran sandiwara” yang berserahkan dan tak berujung.

Semua orang pasti terobsesi dengan tampat ibadah yang tenang dan memberi kenyamanan, tak butuh penjelasan apa-apa. Hanya saja, setiap orang juga punya “indikator” nyaman sendiri-sendiri, tergantung pemahaman dan pengalaman. Dan jika ditanya apa i’tibar yang esensi yang bisa di ambil dari “forum islah” malam itu, saya memaknainya “pancaran hidayah” yang menembus relung hati paling dalam. Dia bisa menenangkan keresahan tiga karib sesama tetangga dan kepala rumah tangga, yang sering “curhat” soal kerasnya bunyi toa di menara itu, yang cukup lama. Dan mungkin juga tetangga lainnya yang tak terungkap. Ini juga di akui pengelola, terlalu keras bunyinya.

Banyak fakta masalah, hingga kita berniat baikpun, belum tentu memiliki implikasi sesuai ekspektasi kita. Karena itu, perlu diurai. Terima kasih buat teman-teman yang telah bersilaturahmi di malam itu. Tak masalah, sedikit terlambat.

Semua orang yang berakal sehat pasti mendambakan kehidupan bertetangga yang harmoni dan saling menghargai.

Dan kalau di tanya lagi, mengapa forum itu tak terjadi di sekian tahun yang lalu hingga begitu lama harus “menunggu”nya, yang bisa berarti memelihara pertentangan, saya hanya bisa menjawab dengan nada guyon dan sedikit “sombong”: andai itu terjadi sejak lama, mungkin anda tak akan membaca catatan pendek yang indah ini, di saat ini.

Dan bunyi toa di menara itu, kembali “normal”, alhamdulillah. Wallahua’lam. (*)