“Dapat darah pertama pas belokan mau masuk di lokasi rumah itu. Saya lihat darah di depan rumah di teras, tapi yang banyak itu di jalan dari rumah sekitar 3 meter, terus ada darah di belakang oto (mobil, red) korban,” terangnya.

Di rumah sakit, sambung Farmin, adiknya dirawat di IGD. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Farmin bilang korban sempat berkata akan menuntut mereka. Namun ia tak tahu siapa mereka yang dimaksud adiknya.

“Almarhum sempat bicara kalau kita (saya, red) akan tuntut pa dorang (mereka, red). Dan bukan hanya saya yang dengar, ada teman saya juga yang dengar dan itu di IGD,” ucap Farmin.

“Dari mulai saya datang jam setengah 4 sampai jam 06:20 dia meninggal dunia, dan langsung saya bawa ke Tobelo,” sambungnya.

Di rumah sakit Morotai, luka korban dijahit sangat rapi. Namun karena ada kejanggalan penyebab kematian korban, setibanya di Tobelo keluarga meminta jenazah divisum.

“Karena keluarga lihat luka yang janggal, jadi kita minta kalau bisa jangan dulu dikubur. Rencana hasil visum di RSUD Tobelo keluar Senin besok,” jelasnya.

Kelurga korban berharap pihak kepolisian serius mengungkap masalah ini.

“Pokoknya kami merasa janggal dengan luka yang ada di tangan kanan ade saya itu. Kalau semisal pukul kaca, adik saya tidak ada irisan kecil kaca sama sekali di tangan, bersih,” pungkasnya.